Petani Inhil Stuban ke Sentra Pembibitan Padi Jabar

PEKANBARU - RiauPortal.com - Belasan orang petani dan PPL  dari 17 Kecamatan Inhil studi banding ke Desa Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Selasa (16/10/2012). Kabupaten Subang terkenal dengan PT Sang Hyang Seri sebagai perusahaan pembenihan modern dan terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Di pilihnya perusahaan penghasil bibit ini untuk mencari bibit padi yang cocok untuk wilayah Inhil.

"BI dan Dinas Pertanian Inhil bekerjasama untuk mengembangkan petani Inhil yang menjadi sentra pertanian di Riau," kata  Peneliti ekonomi Madya BI Wilayah Riau Abdul Madjid.

Dikatakan Madjid, petani yang di Inhil ini merupakan binaan BI selama ini. “Untuk percontohan, disana kita sudah bekerjasama dengan Disnag dengan memberikan   bantuan hand traktor 3 dan 5 mesin perontok padi,” ujarnya.

Ia berharap dengan kunjungan ingin petani Inhil dapat meningkatkan produksi padi mereka kedepan. "Saya sudah mengatakan kalau bantuan yang di berikan tidak ada hasilnya maka BI tidak akan meneruskan ini, akan tetapi ternyata ada hasilnya makanya mereka sekarang kita bawa ke Subang untuk melihat langsung bagaimana proses pembibitan padi,” urainya lebih jauh.

Syahrudin Harahap, Manager Unit Pemberdayaan Sektor Rill dan UMKM, KPW BI Provinsi Riau, mengatakan,  Sebelumnya BI sudah melatih para  petani di Inhil , dan ikut study banding ini adalah petani terpilih.

Lahan pertanian padi yang potensial di Inhil kini ada 46.360 ha, yang sudah di gunakan sebagai dan  berproduksi hanya 28.008 ha. Untuk produksi petani Ihil  tahun 2012 kini hanya mampu menghasilkan 38,6 kwintal perhektar.

“Studi banding kesini untuk meningkatkan pertanian dan sistem pertanian di Inhil , terutama bibit padi. Petani akan cari bibit yang cocok dengan  cuaca dan tanah   berbeda,” ujarnya.

Kelompok tani ini dua hari mulai dari teori sampai ke praktek lapangan. Agung, Kepala Bagian Humas PT . Sang Hyang Seri Regional I, mengakui produksi padi petani binaan mereka  rata-rata  minimal  2,5 ton ha.

"Target minimal perhektare petani berproduksi 2,5 ton, bahkan lebih,kalau berlebih akan kita beri reward," imbuhnya.

Ia juga menambahkan memiliki prabrik benih tercanggih dengan volume usaha benih padi non Hibrida berkisar 100.000 ton pertahun dengan jumlah 50 varietas dan padi Hibrida berkisar 20.000 pertahun dengan 5 varietas.(*/rpo)

5:18 PM | Posted in , | Read More »

Pengusaha Sawit Malaysia Kuasai 178.000 Ha di Riau

PEKANBARU - RiauPortal.com -  Tiga perusahaan perkebunan asal Negeri Jiran Malaysia, yakni PT TH Indo Plantation, Minamas, dan PT Adei terdata telah mengelola sedikitnya 178 ribu hektare lahan di Provinsi Riau.

"Sejumlah lahan itu ada di berbagai kawasan di Riau," kata Konsulat Malaysia, Azizan Ismail, di Pekanbaru, Minggu (2/9/2012).

Jumlah pengelolaan lahan perkebunan itu, lanjutnya, setiap tahunnya mengalami penambahan yang lumayan signifikan.

Menurut dia, dari data tersebut juga masih banyak lagi perusahaan lain asal Malaysia lainnya yang terus menggarap lahan untuk kepentingan perkebunan, mulai kelapa sawit hingga karet atau getah.

Dikatakannya, di Riau juga terdapat banyak tenaga kerja profesional asal Malaysia yang telah lama bekerja di berbagai bidang perusahaan itu.

Dia mengakui, seluruh usahawan itu juga terus menjalankan perniagaan di berbagai unit usaha khususnya perkebunan dan industri lainnya.

Selain perkebunan, demikian Azizan, juga ada usahawan asal Malaysia yang bergerak di bidang perbankan, salah satunya yakni CIMB Niaga.

"Kemudian ada pula di perusahaan industri otomotif seperti Proton. Selanjutnya di bidang pelumas Petronas serta penerbangan seperti Air Asia dan Firefly," katanya.

Sementara khusus bidang perkebunan, lanjutnya, nilai hasil industri per tahun bisa mencapai 612,5 juta dolar AS atau setara dengan Rp6,120 triliun.

Azizan mengharapkan, hubungan antara Indonesia khususnya Riau dengan Malaysia dapat terus terjalin dengan baik guna perkuat perekonomian kedua negara.(*/rpo)

10:34 PM | Posted in , | Read More »

Harga Anjlok, Sawit Dibiar Membusuk

BENGKALIS - RiauPortal.com - Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit terus anjlok. Sepekan belakangan, di Pulau Bengkalis hargnya mencapai Rp 450 perkilogram. Sejumlah petani sawit di daerah ini, lebih memilih membiarkan buah komoditi tersebut membusuk di pohon.

Para petani sawit ini beralasan, jika dipaksakan untuk dipanen dan harus dijual kepada tengkulak, menurut mereka sangat tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan dari perkebunan.

"Sawit sekarang harganya sangat murah hanya Rp 400 perkilo. Biasanya kalau turun pun hanya Rp 700-800 perkilo. Kalau dipanen dan dijual pun tak cukup untuk menutupi biaya panen. Lebih baik buahnya dibiarkan saja di kebun jadi tak mengeluarkan biaya apapun," ujar Sujiman (37), warga Desa Jangkang Kecamatan Bantan, Kamis (4/10/2012)

Keluhan yang sama juga disampaikanYanto (46). Petani dari desa yang sama dan sudah menekuni perkebunan sawit sekitar 5 (lima) tahun seluas 2 hektar, juga terpaksa bersabar. Harga TBS yang semakin murah, memaksa dirinya tidak lagi memanen buah sawit dan membiarkannya membusuk di pohon.

"Harga anjlok seperti ini, saya tak pernah panen lagi buah sawit. Hitung-hitung hanya rugi dan hanya besar diongkosnya saja.Jadi, buah yang masak dibiarkan saja membusuk di pohon," keluhnya.(rpo)

6:11 PM | Posted in , , | Read More »

Meranti Berpotensi Kembangkan Peternakan

SELATPANJANG - RiauPortal.com - Sebagai Kabupaten Baru yang masih memiliki ketersediaan lahan yang luas, Di Kabupaten Kepulauan Meranti sangat berpotensi dikembangkan bidang peternakan dan pertanian. Apalagi mengingat kebutuhan akan daging dan berbagai produk pertanian, masih mengandalkan luar wilayah Kabupaten muda itu.

Wakil Gubernur Riau, HR Mambang MIT, saat berkunjung ke Selatpanjang beberapa waktu lalu, mengharapkan Kepulauan Meranti bisa unggul dibidang pertanian dan peternakan. Apalagi Kabupaten tersebut sangat berpotensi.

‘’Kita mengharapkan Kepulauan Meranti bisa unggul dibidang pertanian. Apalagi di Meranti masih terdapat bahagian lahan yang bisa untuk menanam padi dan tanaman pertanian lainnya,’’ kata Mambang seperti dikutip riaupos.co.

Wagubri menyebutkan nantinya terhadap lahan di Meranti bisa di replenting atau diperbaharui. Dengan begitu penggantian dari tanaman tua kepada tanaman muda dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil pertanian itu sendiri.

Lebih jauh Mambang juga menyebutkan di Meranti juga bisa dikembangkan peternakan. Apalagi di daerah tersebut masih dibutuhkan daging, yang nota bene untuk memenui kebutuhan nya didatangkan dari luar.

Dengan tegas ia menyebutkan nantinya dari Dinas Peternakan dan juga Dinas Peternakan Provinsi Riau bisa dilakukan sharing program untuk membantu meningkatkan hasil pertanian dan peternakan di Meranti.

‘’ Kalau dulu dan saat ini masih banyak masyarakat miskin di Meranti. Namun nantinya dengan berbagai program Meranti bisa lebih maju, bahkan lebih maju dari Kabupaten induknya (bengkalis red). Oleh karena it perlu kerjasama antara Pemerintah , dan seluruh stake holder dan lapisan masyarakat di wilayah Kepulauan Meranti,’’ terangnya.(rpo)

8:02 AM | Posted in , | Read More »

Harga TBS Riau Terus Melorot

PEKANBARU - RiauPortal.com - Petani sawit di Provinsi Riau dipastikan mengeluh dikarena dalam dua priode penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) kembali terjadi hal penurunan. Seperti harga priode 01-07 Agustus 2012, TBS sawit turun.

"Tidak tahu saya lagi, sudah dua priode ini harga TBS sawit di Riau melorot, kendati tidak begitu tajam. Tetapi inikan jelas bisa rugikan kami petani yang menumpukan hidup disini. Seharus dimusim panas ini harga TBS naik," katanya.

Demikian disampaikan Muslimat Karya salah seorang petani sawit yang pengurus Aspekpir kepada wartawan, yang mengatakan, penetapan harga TBS sawit di Riau ini memang ditetapkan itu dalam sepekan sekali. Tapi dalam tiga pekan belakangan ini harga kembali terus melorot. Seperti priode kali ini, harga TBS itu Rp1.592,68 perkilogram.

"Priode 01-07 Agustus 2012, harga TBS sawit Riau kembali melorot  dengan harga Rp1.592,68 perkilogram untuk usia sepuluh tahun. Sedang priode sebelumnya itu harga TBS Rp1.650,22 perkilonya. Inikan penurunan yang meresahkan," katanya, Sabtu (9/8/2012)

Namun dalam hal ini Muslimat mengatakan, bagaimana lagi. Jika tidak dijualkan ke pihak perusahaan, tentu sawit yang dipanen ini jadi busuk. Maka diharapkan katanya, pemerintah dapat bantu petani sawit dalam penetapan harga TBS ini.

Sementara ditempat yang sama Kepala Disbun Riau melalui Ketua Tim Penetapan Harga TBS sawit Ferry HC mengakui saat priode ini terjadi penurunan. "Benar saat ini, harga TBS sawit Riau kembali turun dari priode sebelum," katanya.

Penyebab turunnya harga TBS sawit ini, sebutnya dikarena terjadi krisis eropa dan perlambatan ekonomi china yang mengakibatkan kembali
turun harga CPO ini. Tapi lanjutnya, turunya harga TBS ini diakui tidak begitu dratis bagi petani.

"Kekhwatiran krisis Eropa dan perlambatan ekonomi china menjadi penyebab yang utama turunya harga CPO. Hal ini diprediksi berlanjut hingga kuartal ketiga. Namun diharap petani sawit tidak resah, karena turun tidak dratis," katanya.

Ferry juga Kepala Bidang Pengolahan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2PH) Disbun Riau ini mengatakan, selain hal itu juga dikarenakan pasokan
dan permintaan yang tidak seimbang. Yang prospek komoditas minyak sawit (CPO) masih suram.

"Meski permintaan menjelang hari Raya dan saat bulan Suci Ramadhan ini naik. Tapi para analisis memprediksi harga CPO akan terus melemah yang disebab oleh penurunan dari produksi global terus meningkat dan menjadi rekor," katanya.

Ferry menjelaskan secara rinci harga TBS sawit Priode 01-07 Agustus 2012 sesuai hasil rapat tim. Yakni usia 3 tahun Rp1.139.39 perkilonya dan usia 4 tahun Rp1.273,43 perkilo. Usia 5 tahun Rp1.363,12 perkilonya. Dan usia 6 tahun Rp1.402,24 perkilonya, usia 7 tahun Rp1.456,05 perkilonya. Usia 8 tahun Rp1.501,37 perkilonya. Usia 9 tahun Rp1.548,97 perkilonya. Yang untuk usia 10 tahun keatas itu ditetapkan dengan harga Rp1.592,68 perkilo.(*)

10:28 PM | Posted in , | Read More »

Harga TBS Turun Menjadi Rp1.488,16

PEKANBARU - RiauPortal.com - Kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit minggu lalu tidak serta merta mendongkrak harga TBS bakal membaik kedepannya. Pekan ini, harga TBS kelapa sawit umur 10 tahun ke atas kembali mengalami penurunan drastis sebesar Rp 122,09.

Jika minggu lalu mampu bertahan dengan harga 1.610,25. Dengan penurunan tersebut maka harga TBS kelapa sawit pekan ini periode Rabu (13/6) hingga Selasa (19/6) turun menjadi Rp 1.488,16.

Hal ini diketahui dari hasil rapat penetapan harga TBS kelapa sawit, Selasa (12/6/2012) di ruang rapat Dinas Perkebunan Provinsi Riau.

Sementara TBS umur sembilan tahun Rp 1.447,34, umur delapan tahun Rp 1.402,84 dan TBS umur tujuh tahun Rp 1.360,85.

Untuk diketahui, harga CPO rerata tertimbang periode penjualan (04-10 Juni 2012) Rp 7.000,21. Harga kernel rerata tertimbang periode penjualan (04-10 Juni 2012) Rp 3.528,66, dan Indeks "K" periode Rabu (13/6) hingga Selasa (19/6) 86,98 persen.

Rapat penetapan harga TBS dipimpin Sekretaris Aspekpir Karya Muslimat dihadiri Tim Dinas Perkebunan Riau serta sejumlah perusahaan dan kelompok tani yang tergabung dalam Tim Penetapan Harga TBS kelapa sawit.

Karya menjelaskan, Penurunan harga TBS pekan ini disebabkan permintaan CPO di pasar global menurun, disinyalir Amerika dan Cina belum mampu mengatasi krisis di negaranya sehingga permintaan CPO juga menurun.

Lebih lanjut Karya Menjelaskan, Kenaikan TBS kelapa sawit pekan lalu ternyata hanya bertahan tiga hari saja, Senin (4/6) hingga Rabu (6/6). Tiga hari berikutnya kembali menurun, Kamis (7/6) hingga Minggu (10/6).

Ditambahkan, salah satu faktor penyebab kenaikan pekan lalu berdasarkan penghitungan Standar Operasional Prosedur (SOP) penetapan harga buah, karena tiga perusahaan sumber data tidak memasukkan data harga CPO. " Perusahaan yang tidak memasukkan data CPO akan dikenakan Pinalti, dengan mengisi kolom data CPO-nya mengikuti harga tertinggi data CPO yang masuk ke pokja penetapan harga buah, " jelasnya.(urc)

11:45 PM | Posted in , | Read More »

Perlu Rp1,7 T untuk Peremajaan Karet

PEKANBARU - RiauPortal.com - Luasnya kebun karet yang tua dan rusak milik rakyat di Provinsi Riau memerlukan penanganan segera untuk peremajaan. Data terakhir di Dinas Perkebunan (Disbun) Riau, luas tanaman karet yang tua dan rusak mencapai 92.246 hektare.

Untuk menyelamatkan kebun rakyat tersebut, diperlukan suatu gerakan nasional (Gernas) peremajaan karet. Dari luasan itu memerlukan dana peremajaan sekitar Rp1,7 triliun dengan unit cost per hektarenya Rp18,3 juta.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Riau, Drs H Zulher MS, Senin (11/6/2012). Zulher mengatakan, jika tetap hanya dengan program peremajaan tahunan, maka untuk peremajaan karet baru selesai selama puluhan tahun.

Di pihak lain, anggaran daerah sangat terbatas. Keterbatasan itu tentu akan menyebabkan takkan selesai-selesainya peremajaan kebun karet rakyat di Riau bila hanya dengan program tahunan.

Sebab, ada batasan kesanggupan anggaran daerah dan pusat. Pemprov Riau melalui Disbun Riau kini sedang mengupayakan agar peremajaan karet di Riau bisa diselesaikan dengan program gerakan nasional.

Dikatakan Zulher, bersama beberapa kepala dinas perkebunan tingkat provinsi lainnya di Indonesia, Gerakan Nasional (Gernas) peremajaan karet rakyat tersebut sudah disampaikan kepada Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI. Diharapkan, tahun 2013 mendatang sudah dapat direalisasikan.

Gernas akan lebih diarahkan di wilayah Indonesia Bagian Barat, terutama Sumatera dan Kalimantan. ‘’Untuk Gernas peremajaan karet tahun 2013, Disbun Riau mengusulkan 50 ribu hektare areal kebun karet yang tua dan rusak untuk diremajakan,’’ terang Zulher.

Melalui program Gernas, persoalan untuk peremajaan kebun karet rakyat bisa diselesaikan. Program Gernas satu paket untuk petani. Mulai dari land clearing, bibit, pupuk, obat-obatan dan pemeliharaan.

‘’Itu sebagai upaya untuk meningkatkan hasil produksi kebun petani sektor perkebunan, khususnya komoditi karet. Bibit yang akan digunakan tentu saja bibit berkualitas. Bukan bibit asal-asalan. Sebab, Gernas bukanlah untuk penghijauan. Tapi untuk meningkatkan taraf ekonomi rakyat,’’ tegasnya seperti dikutip riaupos.co.

Ini juga sudah disampaikannya dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) beberapa waktu lalu. Selain untuk program Gernas, Disbun Riau mengusulkan untuk dilakukannya peremajaan karet, terhadap kebun tua dan rusak milik rakyat seluas 10 ribu hektare agar masuk dalam APBN tahun 2013 mendatang.(rpo)

5:16 PM | Posted in , | Read More »

PT Byru Garap Pasar Timur Tengah

DUMAI  – DumaiPortal.com - PT Byru Sinar Atlantic lakukan terobosan dalam upaya memperluas pasar palm oil. Dengan menggandeng PT Tanjung, PT Byru akan pasarkan palm oil daerah ini melalui pasar Bursa Malaysia Berhad dengan market utama negara-negara Timur Tengah.

Jum’at (8/6) akhir pekan lalu, sejumlah pimpinan manajemen Bursa Malaysia Berhad bersama dengan manajemen PT Tanjung lakukan kunjungan ke Dumai. Mereka adalah Jamaluddin, CEO Bursa Malaysia, Rizwan dan Norfadelizan Abdul Rahman, Acting Global Head Islamic Markets. Selain itu, Maamor, pimpinan PT Tanjung bersama tiga orang staf. Ikut mendampingi Dato’ M Nazri, salah seorang investor.

Sebelum melakukan pertemuan yang manajemen PT Byru, mereka berjumpa dengan Wakil Wali Kota Dumai, H Agus Widayat. Pada kesempatan itu, wawako menyambut baik inisiatif yang dilakukan PT Byru yang akan memasarkan produksi palm oil daerah ini melalui pasar bursa yang khusus membidik konsumen Islamic markets.

“Kita sangat mendukung terobosan bisnis yang dilakukan PT Byru. Diharapkan bisa memerluas pasar hasil produksi sawit para petani kita,” ujarnya.

Pemko Dumai, tambah Agus, mendukung keberadaan investor akan berupaya menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan guna mendukung aktifitas bisnis. Salah satunya, adalah dengan memperbaiki jalan dan sarana transportasi lainnya.

“Kendala yang terjadi berkaitan dengan sulitnya jalan ke daerah ini diharapkan akan terselesaikan tahun 2015 mendatang. Sebab pada tahun itu direncanakan jalan tol Dumai-Pekanbaru sudah bisa dipergunakan,” jelasnya didampingi anggota DPRD Dumai, Timo Kipda.

M Nazri menyebutkan pihaknya sengaja mencari peluang pasar baru guna memasarkan komoditi sawit yang makin luas marketnya di pasaran dunia yang dibarengi dengan makin banyaknya produksi yang dihasilkan.

“Guna menjaga harga tetap stabil di tingkat dunia, kita perlu mencari terobosan-terobosan baru. Salah satunya adalah dengan menggarap pasar Timur Tengah melalui pasar bursa,” jelasnya, Sabtu (9/6).

Terobosan ini direspon PT Byru dengan menyiapkan komoditi sawit dan olahannya, terutama yang berada di Riau dan sekitarnya. “Kita siap menyediakan produk palm oil untuk dipasarkan melalui Bursa Saham Malaysia yang fokus dengan market Timur Tengah dengan system jual beli sesuai syariat Islam,” jelas Dicki Rinaldy, Direktur Utama PT Byru Sinar Atlantic.(rpo)

5:21 PM | Posted in , | Read More »

Harga Getah dan TBS Terus Anjlok

PASIRPANGARAIAN - RiauPortal.com - Musim trek enam bulan terakhir pada tanaman komoditi buah kelapa sawit cukup menyiksa ekonomi petani kelapa sawit di Kabupaten Rokan Hulu, apalagi musim trek menjelang musim ajaran baru sekolah, bulan puasa serta lebaran.

Sejumlah petani kelapa sawit mengaku, biasanya per hektar kebun kelapa sawit bisa menghasilkan 1 ton-1,2 ton, tapi sejak musim trek produksi merosot tajam antara 50-70 persen. Pun, harga jual Tandan Buah Segar (TBS) kepala sawit ke toke biasanya Rp1.500-Rp1.600 per kilogram (kg), kini anjlok menjadi Rp1.1000-Rp1150 per kg.

Rudi, salah seorang petani kelapa sawit di Pasirpangaraian mengaku enam bulan terakhir dia rugi besar, sebab selain buah trek, harga jual ke toke menurun drastis antara Rp400-Rp500 per kg.

“Kita hanya bisa pasrah dan tidak sanggup lagi membeli pupuk, sebab penurunan produksi cukup signifikan sampai 70 persen setiap panen. Buah berkurang dan harga dijual ke toke murah, sementara kebutuhan untuk anak masuk sekolah dan menjelang bulan suci Ramadhan sekaligus Hari Raya Idul Fitri sudah dekat,” keluhnya seperti dikutip riauterkini.com.

Sofyan Yunus, seorang toke TBS Kelapa sawit di Desa Rambahsamo Barat, Kecamatan Rambahsamo, mengaku dampak trek dan turunnya harga TBS berdampak juga terhadap dirinya. Sebab kini harga jual TBS petani ke PKS menurun, yakni antara Rp1.400-Rp1.700 per kg.

Turunnya harga TBS kelapa sawit sendiri, ungkanya telah terjadi sejak 3 pekan terakhir dan mengakibatkan petani menjerit. “Mau tidak mau kita harus terima dan penjualan mengalami penurunan dari pabrik,” keluhnya.

Hal serupa juga dialami para petani karet. Mereka sangat terpukul mendapati harga getah terus merosot setiap pekannya. Jika dalam kondisi normal harganya berkisar Rp 13 ribu perkilogram, kini hanya berkisar Rp 7 ribu berkilogram.(*)

11:08 PM | Posted in | Read More »

Beras Terubuk Masuk Bursa Lelang

BENGKALIS - DumaiPortal.com -  Beras Terubuk produksi Rice Processing Complex (RPC) PT Bumi Laksamana Jaya masuk bursa lelang nasional di Puspa Agro, Surabaya. Beras produksi asli Bengkalis ini turut dipamerkan pada pameran dan temu bisnis se-Indonesia oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bengkalis yang dihadiri Wakil Presiden, Boediono dan Menteri Dalam Negeri, Boediono, Kamis (14/5).

‘’Dengan masuknya beras Terubuk ke bursa lelang nasional, berarti beras produksi kita sudah tercatat dan bisa berbicara di level nasional,’’ papar Humas PT Bumi Laksmana Jaya (BLJ), Haspian Tehe melalui pesan singkatnya, Kamis (24/5/2012) seperti dikutip dumaipos.com.

Total produksi beras Terubuk sampai saat ini sudah mencapai 110 ton. ‘’Kita akan berupaya terus meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan pasar yang telah ada,’’ sebutnya.

Mewakili manajemen PT BLJ, Haspian menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bengkalis yang telah ikut membantu memperkenalkan beras Terubuk ini ke tingkat nasional.

‘’Kita ucapkan terima kasih kepada Disperindag yang telah ikut memperkenalkan beras Terubuk sehingga bisa masuk bursa lelang nasional,’’ ungkap dia.

Sementara itu Kadisperindag Bengkalis, Darmawi didampingi Kabid Perdagangan Dalam Negeri Alfakhrurrazi mengatakan ini merupakan bentuk dukungan pihaknya agar beras produksi RPC PT BLJ mampu dikenal di level nasional.

‘’Sekarang panitia lelang telah mencatat beras Terubuk di bursa lelang nasional. Jika ada pihak yang berminat membeli tinggal menguhubungi Disperindag atau langsung ke PT BLJ,’’ ungkapnya.(dpo)

6:21 PM | Posted in , | Read More »

Harga TBS Terus Merosot

PEKANBARU - RiauPortal.com - Memasuki pekan kelima, harga Tandan Buah Segar kelapa sawit (TBS) umur 10 tahun keatas terus menunjukkan angka penurunan. Hal ini diketahui dari hasil rapat TIM Penetapan Harga TBS, Selasa (22/5/2012) di ruang rapat Dinas Perkebunan Provinsi Riau.

Harga TBS minggu ini, periode Rabu (23/5) hingga Selasa (29/5) turun Rp 130,37 menjadi Rp 1.643,60 perkilogram. Penurunan TBS kali ini dinilai lebih banyak ketimbang pekan lalu, dimana periode sebelumnya (16-22 Mei 2012) hanya mengalami penurunan Rp 54,19 perkilogram dan bertahan pada angka Rp 1.773,97 perkilogram.

Penurunan harga TBS 10 tahun keatas serta merta berpengaruh terhadap TBS umur tiga sampai sembilan tahun. Jika sebelumnya harga TBS umur sembilan tahun  berkisar Rp 1.725,31,  pekan ini turun menjadi Rp1.643,60.

Untuk diketahui, harga rerata tertimbang periode penjualan 14-21 Mei 2012 Rp 7.610,83 Harga kernel rerata tertimbang periode penjualan 14-21 Mei 2012, Rp 3.856,30  dan Indeks "K" periode 23-29 Mei 2012 88,31 persen.

Kabid Pengembangan Pengolahan Hasil Perkebunan Disbun Riau Ferry HC mengatakan, turunnya harga CPO disebabkan penawaran dilevel pasar global cenderung rendah.

Pasalnya permintaan CPO oleh peserta lelang menahan permintaan karena ada beberapa komoditi lain tengah dikembangkan seperti biji bunga matahari, jagung, dan kedelai cukup membaik. Sehingga suplay dari negara pengimpor CPO berkurang maka penawaran juga akan berkurang. " Peserta lelang akan menahan untuk membeli tapi biasanya mereka akan melakukan stok, untuk periode ini secara bersama-sama dengan Malaysia harga CPO kita turun,"

Turunya harga CPO juga dirasakan negara jiran Malaysia. Dijelaskan Ferry, sebenarnya eropa dan amerika adalah pasar kedua setelah CPO dibeli atau diimpor oleh negara asia lainnya seperti banglades, India, Cina dan Pakistan. "Inilah negara yang banyak impor CPO dari Indonesia dan Malaysia, " katanya.

Namun untuk harga CPO di level Sumatra kata Ferry, harga CPO Riau cukup tinggi dibanding Provinsi lainnya.

Rapat penetapan harga TBS dipimpin Kabid Pengembangan Pengolahan Hasil Perkebunan Disbun Riau Ferry HC, dihadiri Tim Dinas Perkebunan Riau serta sejumlah perusahaan dan kelompok tani yang tergabung dalam Tim Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit.(rpo)

6:33 AM | Posted in , | Read More »

Amerika Akan Respon CPO Indonesia

JAKARTA - RiauPortal.com - Amerika Serikat akan memberikan tanggapan terhadap kasus minyak sawit mentah Indonesia yang dianggap tidak memenuhi standar energi terbarukan dalam waktu enam bulan mendatang. Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Zaenal Bachruddin mengatakan, pemerintah Negeri Abang Sam membutuhkan waktu untuk mengevaluasi dan membaca laporan yang disampaikan pemerintah Indonesia. “Mereka menyampaikan itu," kata Zaenal di Jakarta.

Pada 27 Januari 2012 lalu, pemerintah Amerika menerbitkan notifikasi Enviromental Protection Agency (EPA) mengenai bahan bakar dari sumber yang dapat diperbarui (renewable fuel standards). Notifikasi menyatakan bahan bakar minyak nabati atau biofuel yang berasal dari minyak sawit Indonesia belum memenuhi standar energi terbarukan. Standar batas pengurangan emisi gas rumah kaca yang ditetapkan EPA untuk biodiesel dan renewable diesel dari bahan baku sawit 20 persen, minyak sawit Indonesia hanya mengurangi emisi sebanyak 17 persen untuk biodiesel dan 11 persen untuk renewable diesel.

Pemerintah Indonesia merespons dengan memberikan hasil kajian untuk membantah notifikasi EPA. Zaenal memastikan, CPO Indonesia malah melebihi batas yang ditentukan Amerika. Sayangnya, Zaenal tidak bersedia berapa angka yang dihasilkan CPO Indonesia dari hasil kajian pemerintah.

Amerika, kata Zaenal, berjanji untuk mengkaji secara objektif hasil kajian tersebut, termasuk metode penghitungan yang digunakan. “Standar angka yang pertama dikaji lagi apakah terjadi penggunaan recycle limbah ke metan. Mereka akan teliti lagi hitungan batas 17 persen untuk biodiesel dan 11 persen renewable biodiesel."

Zaenal mengatakan, pemerintah tidak mengkhawatirkan penolakan serupa dari negara lain. Meskipun kemungkinan Amerika akan memblokir Indonesia dari daftar eksportir CPO ke negaranya atau negara lain.

“Amerika akan memberikan informasi ini ke kongres terlebih dulu karena itu memakan waktu lama. Juga tidak boleh ada pelarangan kepada negara lain untuk tidak impor CPO kita,” ujarnya. Toh, pemerintah belum akan membawa kasus ini ke organisasi perdagangan dunia.

Zaenal optimitis, respons pemerintah Amerika yang lama tidak akan mempengaruhi volume ekspor CPO Indonesia. Sebab, ekspor CPO ke Amerika hanya sekitar 1 persen dari total volume ekspornya. Pada 2002 ekspor CPO Indonesia ke Amerika 600 ribu ton, lalu meningkat menjadi 1,043 juta ton pada 2011. Dari hasil produksi CPO Indonesia yang mencapai 23 juta ton di 2011, sebanyak 17 juta ton lebih diekspor ke India sebagai negara pembeli utama.(tc/rpo)

4:08 PM | Posted in | Read More »

Rp 42 Triliun Investasi Wilmar di Indonesia

Kawasan Industri Dumai (KID) salah satu anak perusahaan Wilmar Group di Dumai, Riau
JAKARTA - RiauPortal – Wilmar Group, raksasa agribisnis terbesar di Asia, terus memupuk investasi di Indonesia hingga Rp 42 triliun atau setara US$ 4,6 miliar periode 1991-2016. Investasi itu dibagi dua, yakni periode 1991-2011 sekitar Rp 33 triliun dan periode 2012-2016 sekitar Rp 9,2 triliun.

Wilmar International Limited merupakan induk usaha Wilmar Group yang berbasis di Singapura dan menjadi salah satu perusahaan berkapitalisasi terbesar di bursa Singapura. Di Indonesia, Wilmar Group memiliki anak usaha seperti PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Musimas Nabati Indonesia, PT Sentana Adi Daya Pratama (di Gresik), dan PT Arya Persada Indonesia (di Gresik).

Komisaris Wilmar Nabati Indonesia MP Tumanggor mengatakan, sejak tahun 1991 Wilmar telah menanamkan investasinya di Indonesia sebesar Rp 33 triliun. Taufik Tamin, Direktur Eksekutif Wilmar Nabati Indonesia, menambahkan dalam lima tahun ke depan (periode 2012-2016) Wilmar akan menginvestasikan dana sekitar US$ 1 miliar untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Wilmar telah membangun dua kawasan industri agri di Dumai dan Gresik. Investasi Wilmar Nabati Indonesia di Gresik diperkirakan telah mencapai US$ 400 juta dari 2008 sampai 2011.

Perusahaan yang mampu menghasilkan pendapatan US$ 30,3 miliar secara grup pada 2010 itu memfokuskan bisnis di minyak sawit mentah, gula, pupuk, terigu, dan komoditas lainnya.

Di kawasan Industri terpadu milik Wilmar di Gresik sedang dibangun sebuah bio refinery plant untuk mengolah minyak sawit menjadi jet fuel dan berbagai pengembangan industri turunan minyak kelapa sawit lainnya. Setidaknya ada 40 jenis turunan minyak kelapa sawit yang bisa dikembangkan, dan baru sekitar 20 jenis yang dikembangkan di Wilmar.

Minyak sawit mentah (CPO) yang berasal dari kebun Wilmar sendiri hanya sekitar 20%-30%. Selain itu Wilmar juga membeli sawit dari perusahaan perkebunan dan perkebunan milik BUMN. CPO yang dikelola Wilmar tahun 2011 senilai US$ 7,09 miliar, naik dari 2010 yang hanya senilai US$ 5,5 miliar. Dari nilai produksi CPO 2011, 70% atau sekitar US$ 5 miliar untuk ekspor.

“Wilmar membayar pajak ekspor lebih kurang Rp4,6 triliun dan restitusi pajak yang kami terima sebesar Rp1,4 triliun. Investasi kami di Indonesia sudah sekitar Rp33 triliun (periode 1991-2011),” kata Tumanggor dalam keterangan tertulis.

Tumanggor menjelaskan Wilmar Indonesia memiliki andil sekitar 15% dari Wilmar International yang bermarkas di Singapura. Penjualan Grup Wilmar Indonesia tahun 2007 sampai 2011 tercatat US$ 37,8 miliar atau setara dengan Rp 360 triliun, dari angka tersebut 63% merupakan penjualan ekspor dan 37% penjualan lokal.

Sedangkan pajak-pajak (pajak pungutan ekspor atau bea keluar) yang dibayarkan oleh Wilmar Indonesia pada periode 2007-2011 mencapai angka Rp 18,2 triliun, dengan restitusi PPN yang diterima pada periode tersebut tercatat Rp 7,6 triliun.
Tumanggor juga menjelaskan Wilmar merupakan produsen biodiesel terbesar pertama di dunia, yaitu di Pelintung (Riau) dengan kapasitas produksi 1,6 juta ton per tahun. Produknya sebagian dijual ke PT Pertamina dan sebagian lagi ekspor.

Wilmar akan terus meningkatkan produksi biodiesel dengan menambah plant berkapasitas 1.000 ton per hari di Wilmar Nabati Gresik dan Wilmar Nabati Dumai, Riau 1.000 ton per hari.

Taufik Tamin menjelaskan, Wilmar menargetkan produksi CPO tahun ini 22 juta ton dan akan naik menjadi 50 juta ton di 2030. Wilmar Nabati juga akan meningkatkan produksi biosolar dari 2.000 ton per tahun menjadi 3.000 ton per tahun pada 2012.

Di sektor olefin, Wilmar Nabati Indonesia akan mulai merealisasikan produksi olefin untuk campuran bahan bakar jet pada kuartal terakhir tahun 2012. Olefin untuk bahan bakar jet dihasilkan dari pengolahan inti sawit atau kernel. Berkapasitas 500 ton per hari, pabrik biorefinary Wilmar akan menghasilkan olefin dan biodiesel. Wilmar Nabati akan menggandeng PT Pertamina dan Elevance Renewable Sciences Inc asal Amerika Serikat (AS).

Wilmar Nabati juga akan meningkatkan produksi biosolar dari 2.000 ton per tahun menjadi 3.000 ton per tahun pada 2012. Wilmar juga akan menggenjot produksi minyak goreng menjadi 3.000 ton per hari pada tahun ini. Dengan peningkatan itu total produksi minyak goreng Wilmar akan naik menjadi 6.600 ton per hari. Dari jumlah itu sebanyak 65% diekspor.(rpo)

8:30 AM | Posted in , | Read More »

Produktivitas Palawija Buruk

BANDUNG - RiauPortal.com - Masyarakat Singkong Indonesia menilai minimnya produktivitas tanaman palawija akibat sempitnya lahan pertanian dapat diselesaikan dengan cara memanfaatkan lahan terlantar.
 
Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Suharyo Husen mengatakan luas lahan yang biasa digarap petani hanya sekitar 0,25 hektare, sehingga petani kesulitan untuk meningkatkan produktivitas palawija.  
 
"Lahan terlantar di Jawa Barat yang bisa digarap itu banyak sekali, dan sebagian besar dimiliki oleh perusahaan swasta," katanya baru-baru ini.
 
Menurutnya Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2010 tentang penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar dapat menjadi momentum bagi petani palawija untuk memanfaatkan lahan tidur yang ada di Jawa Barat, sehingga keluhan seperti kurangnya lahan atau modal dari petani tidak akan muncul.
 
Namun pemanfaatan lahan terlantar harus dilakukan petani dengan cara membentuk organisasi yang tercatat dalam Kementerian Dalam Negeri atau pemerintah daerah. Organisasi ini perlu dibentuk untuk menghindari terjadinya penyerobotan lahan, serta memberikan posisi tawar petani.
 
Dia mengatakan perlu adanya peran pemerintah sebagai regulator dalam mempertemukan antara pihak swasta sebagai pemilik lahan dan petani dalam pemanfaatan lahan terlantar.
 
"Harus ada perjanjian yang terikat dengan hukum antara pihak pemilik lahan dan petani, sehingga diharapkan tidak muncul masalah di kemudian hari. Contohnya seperti kesepakatan penggunaan waktu lahan,” ujarnya.
 
Suharyo menuturkan organisasi yang dipimpinnya telah mencoba melaksanakan pemanfaatan lahan terlantar di beberapa daerah, di antaranya Cianjur 50ribu hektare, dan Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah 90ribu hektare, dengan bantuan mediasi dari pemda setempat.
 
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat Uneef Primadi mengatakan permasalahan minimnya pemanfaatan lahan tidur biasanya datang dari pemilik lahan.
 
“Mereka enggan menyewakan lahannya kepada petani karena khawatir muncul masalah sengketa lahan dengan petani, sehingga malah menambah masalah baru saja,” tuturnya.
 
Dia menyebutkan terdapat 8.932 hektare lahan tidur di Jawa Barat dari total lahan 1,5 juta hektare. Lahan tidur itu terdiri dari beberapa jenis, seperti pekarangan 127.045 hektare, tegal 561.150 hektare, ladang 226.801 hektare, penggembala 27.153 hektare, kolam 29.096 hektare, dan perkebunan rakyat 226.075 hektare.
 
Dia menuturkan pihaknya berusaha mengembangkan kemitraan antara petani dengan pengusaha untuk memanfaatkan lahan tidur, bahkan setiap dua bulan sekali selalu menjaring pengusaha yang mau bermitra dengan petani. 
 
"Kami memang sedang berusaha untuk mampu memanfaatkan lahan terlantar ini karena sangat bermanfaat untuk menambah luas areal penanaman palawija, selain itu juga sejalan dengan program diversifikasi tanaman pangan dari pemerintah, " katanya.(rpo)

5:25 AM | Posted in | Read More »