Riau Termasuk Tujuan Wisata Syariah

JAKARTA - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menggembangkan salah satu produk baru pariwisata, yaitu pariwisata syariah. Pendorongnya adalah semakin banyak wisatawan Muslim ke Indonesia, juga lantaran banyak negara telah mengembangkannya.

Pengembangan pariwisata syariah akan diterapkan pada empat jenis komponen usaha pariwisata, yaitu perhotelan, restoran, biro atau jasa perjalanan wisata, dan spa. Selain keempat jenis usaha pariwisata tersebut, sarana penunjang pariwisata lainnya juga akan diikutsertakan.

Pengembangan pariwisata syariah Indonesia ini mengacu pada estimasi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara Muslim ke Indonesia yang tidak hanya berasal dari Timur Tengah, namun juga Eropa. Hingga tahun ini, Ditjen Pemasaran Pariwisata Kemenparekraf mencatat kunjungan wisatawan Muslim ke Indonesia mencapai 1.270.437 orang per tahun.

Mayoritas wisatawan berasal dari Arab Saudi, Bahrain, Malaysia, Singapura dan Perancis. Selain itu, Indonesia juga berkaca pada negara-negara di Asia, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Korea, Jepang, Taiwan, bahkan China, yang sudah terlebih dahulu mengembangkan pariwisata syariah, seperti dilansir dari IndonesiaTravel, Minggu (18/8/2013).

Dalam pengembangan pariwisata syariah, Kemenparekraf menggandeng Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU). Mereka akan bekerjasama untuk mengembangkan potensi dan standar pariwisata yang menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai Islami. Standar pariwisata syariah ini nantinya akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Tujuan pariwisata syariah adalah meningkatkan kunjungan wisatawan dalam maupun luar negeri untuk menggunjungi berbagai destinasi maupun atraksi pariwisata yang memiliki nilai-nilai Islami, yang tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa daerah tersebut di antaranya Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Makassar, Yogyakarta, dan Lombok. Tujuan lainnya adalah untuk mendorong tumbuh kembang bisnis syariah dalam industri pariwisata.

Pariwisata syariah rencananya akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di acara Indonesia Halal Expo (Indhex) 2013 pada 30 Oktober-2 November 2013 di Jakarta Internasional Expo, Jakarta. Dalam acara tersebut, berbagai usaha pariwisata yang memenuhi standar syariah akan dipamerkan pada pengunjung.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan basis pemeluk Islam terbesar di dunia, tidak heran memiliki begitu banyak destinasi dan atraksi wisata dengan sejarah, budaya, dan nilai-nilai Islami, contohnya masjid, pesantren, ataupun makam bersejarah. Karena alasan inilah, Indonesia dipandang mampu mengembangkan pariwisata syariah. Pariwisata syariah juga sebenarnya tidak hanya mencakup destinasi dan atraksi pariwisata dengan nilai-nilai Islami, lebih dari itu, pariwisata syariah memiliki ruang lingkup yang sangat luas.(*/rpo)

3:57 PM | Posted in , | Read More »

Lima Kelebihan Traveling ke Bukittinggi

Bukittinggi jadi salah satu kota favorit traveler di Sumatera Barat. Kotanya mungil, cantik, sejuk, dan banyak tempat wisatanya. Inilah 5 alasan untuk traveling ke Bukittinggi.

Bukittinggi tak sekadar Jam Gadang. Kota kelahiran Bung Hatta ini sungguh sayang untuk dilewatkan jika Anda sedang berkunjung ke Sumatera Barat. Dari urusan wisata hingga kuliner, rancak bana!

Inilah 5 alasan untuk berkunjung ke Bukittinggi:

1. Udara yang sejuk

Jika Anda gerah dengan udara di ibukota, Bukittinggi dapat menjadi tujuan Anda. Terletak di dataran tinggi, kota ini punya udara yang sejuk. Oleh sebab itulah, Bukittinggi juga menjadi destinasi favorit untuk bulan madu.

Saat pagi hari, udara yang sejuk akan Anda dapatkan. Selama melangkahkan kaki di kota ini, Anda tidak akan merasa panas ataupun gerah. Memang cahaya matahari akan membuat Anda berkeringat, tapi sejuknya udara akan langsung menyekanya.

Pepohonan hijau dapat Anda temukan dengan mudah di sini. Ada Taman Panorama sebagai taman kota yang memiliki udara segar. Jangan lupa untuk memakai jaket jika Anda menghabiskan malam di sekitar Jam Gadang. Dingin banget!

2. Kota penuh sejarah

Bukittinggi memiliki gores sejarah tentang bangsa ini. Sebabnya, di kota inilah Bung Hatta, sang proklamator, dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya. Di Museum Rumah Bung Hatta, Anda akan menemukan kisah hidup beliau secara lengkap!

Museum Rumah Bung Hatta aslinya adalah rumah Bung Hatta. Di rumah ini, Anda dapat berkunjung ke kamar beliau dilahirkan, kamar beliau mencari ide, dan koleksi buku beliau. Di dindingnya, banyak kisah beliau yang dibingkai. Dari beliau kecil hingga menjadi Wakil Presiden pertama Indonesia ada di sana.

Tak hanya itu, Anda juga bisa berkunjung ke Lubang Jepang. Terowongan ini menjadi markas pasukan Jepang saat menduduki Bukittinggi. Terowongan sungguh panjang. Udara lembab dan lorong-lorongnya seolah bercerita kepada Anda, tentang pendudukan Jepang di Bukittinggi.

3. Kuliner yang Lamak Bana!

Bukittinggi adalah gudangnya kuliner. Anda bisa datang ke wilayah sekitar Jam Gadang. Jalanan di sana dipenuhi berbagai kuliner yang menggoda. Salah satunya yang terkenal, tentu saja teh talua. Ini adalah teh telur khas Bukittinggi. Teh yang hangat dan nikmat untuk diseruput. Meski ada kandungan telur, namun itu tak membuat rasa teh ini menjadi amis. Teh ini pun dipercaya meningkatkan stamina pria!

Harga teh talua sekitar Rp 10 ribu saja. Teh ini akan menghangatkan badan Anda didinginnya udara malam di Bukittinggi yang menusuk tulang. Selain itu, Anda juga bisa menyantap nasi kapau di Pasar Lereng, tak jauh dari Jam Gadang.

Lauk pauk berupa gulai nangka muda, gulai daging cincang, gulai kikil, dendeng daging, rendang, gulai kepala ikan kakap, itik sambal hijau, perkedel kentang, gulai otak, usus sapi isi telur dan tahu, telur balado, dan beragam bahan lain diolah menggunakan bumbu yang kaya rempah. Silakan pilih sendiri lauknya, lamak bana!

4. Jam Gadang yang memesona

Jika Yogya punya Tugu Yogya dan Jakarta punya Monas, maka Bukittinggi punya Jam Gadang. Jam setinggi 26 meter ini memiliki usia ratusan tahun. Jam yang sungguh memesona dan penuh sejarah.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1826 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Sekretaris Kota Bukittinggi saat itu, Rook Maker. Uniknya, jika dulu atapnya menggunakan patung ayam jantan, kini atapnya runcing menjulang khas atap rumah orang Minang. Anda mungkin sering melihat Jam Gadang di televisi atau internet, tapi saat melihat dari dekat, Anda akan jatuh cinta.

Dari atas Jam Gadang, Anda akan melihat Kota Bukittinggi yang cantik. Alam yang hijau berpadu dengan perumahan dan aktivitas penduduk yang lalu lalang di jalan rayanya. Jam Gadang tidak pernah sepi dari pengunjung Anda dapat duduk-duduk di sekitarnya sambil memandangi cahaya dari jam ini di malam hari. Cantiknya!

5. Alam yang hijau dan menakjubkan

Menyebut Bukittinggi, tidak akan bisa terlepas dari alam yang serba hijau. Anda bisa membuktikannya sendiri dengan datang ke Ngarai Sianok. Inilah primadona keindahan alam di Bukittinggi.

Dari Taman Panorama, tak jauh dari Jam Gadang di pusat kota, Anda akan melihat Ngarai Sianok dari atas ketinggian. Tebing-tebing cadas yang dipenuhi pepohonan dan rerumputan hijau, menjadi bukti cantiknya Ngarai Sianok. Di tempat ini pula, traveler berfoto dengan Ngarai Sianok yang menjadi latarnya.

Setelah itu, langkahkan kaki Anda untuk melihat Ngarai Sianok dari dekat. Pandangi tebingnya yang menjulang tinggi. Hanya ada kesejukan dan rasa takjub di sini. Ngarai Sianok akan membius siapa saja dengan keindahannya.

Itulah 5 alasan Anda harus berkunjung ke Bukittinggi. Hanya cukup waktu sehari untuk datang ke tiap tempat-tempat wisatanya di sini. tapi, satu hari tidak akan cukup untuk menikmati pesona Bukittinggi.

sumber: detiktravel.com

9:18 PM | Posted in , | Read More »

Pesona Alami Pantai Pulau Rupat

Pantai Pesona Pulau Rupat adalah nama yang diberikan masyarakat Pulau Rupat Utara kepada Pantai Pulau Rupat yang memanjang di Rupat Utara dan berhadapan langsung dengan perbatasan Malaysia. Pantai ini dahulunya memiliki nama yang berbeda-beda sesuai penamaan dari warga masing-masing desa yaitu Pantai Tanjung Lapin, Pantai Tanjung Rhu maupun Pantai Tanjung Punak.

Pulau Rupat sendiri memiliki luas 1.524,84 km2, yang sebenarnya merupakan gabungan 4 pulau yang seakan-akan menyatu menjadi sebuah pulau. Terdiri atas 2 kecamatan yaitu Kecamatan Rupat dan Kecamatan Rupat Utara. Kecamatan Rupat berada di selatan Pulau Rupat dan memiliki 10 desa yaitu, Makeruh, Batu Panjang, Hutan Panjang, Pangkalan Nyirih, Pergam, Sei Cingam, Sukarjo Mesim, Tanjung Kapal, Terkul, dan Teluk Lecah.


Kecamatan Rupat Utara seperti namanya, berada di utara Pulau Rupat dan memiliki 5 desa yaitu Kadur, Tanjung Medang, Tanjung Punak, Teluk Rhu, dan Titi Akar. Kedua kecamatan ini memiliki potensi yang berbeda-beda. Kecamatan Rupat Utara memiliki potensi wisata air dengan pantai pasir yang sangat indah. Pantai inilah yang disebut Pantai Pesona Pulau Rupat Utara yang menjadi objek pengembangan wisata pantai Kabupaten Bengkalis.

Pantai ini memanjang dari timur ke barat dan berhadapan langsung dengan Tanjung Rusa di Port Dickson – Malaysia. Daerah pantai yang memiliki kelompok tanah mineral dengan tingkat perkembangan muda, baik dengan ciri hidromorfik maupun tanpa ciri hidromorfik. Pantai Utara ini dapat melihat kapal-kapal nasional dan internasional yang melintas, hal ini didukung keadaan laut yang memiliki kedalaman 10-30 meter.


Saat  berkunjung ke Pantai Pesona Desa Teluk Rhu Pulau Rupat Utara November 2011 silam, masih tergolong sulit khususnya transportasi dari Pelabuhan Tanjung Medang Pulau Rupat menuju desa Teluk Rhu sebagai salah satu lokasi wisata di pantai Pesona tersebut. Ketidak-tersediaan kendaraan umum akhirnya tertutupi oleh masyarakat yang menyediakan ojek kendaraan roda 2 dengan ongkos saling tawar-menawar.

Transportasi menuju Pulau Rupat sendiri sebenarnya sudah lancar dengan tersedianya kapal speedboat, kapal RoRo, maupun kapal pompong dari beberapa pelabuhan lain menuju Rupat. Dari Pelabuhan TPI Dumai tersedia kapal speedboat menuju Pelabuhan Tanjung Medang Rupat dengan ongkos Rp.110.000 dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam.

Kemudian ada juga kapal RoRo dari Dumai menuju pelabuhan Tanjung Kapal di Rupat Selatan yang dapat melanjutkan perjalanan darat menuju Pantai Pesona di Desa Teluk Rhu. Rute perjalanan lainnya adalah menggunakan speedboat dari Bengkalis menuju pelabuhan Tanjung Medang maupun kapal pompong yang akan berlabuh di Kadoor (Kadur).

Semua usaha untuk mencapai lokasi Pantai Pulau Rupat yang telah bernama Pantai Pesona ini sungguh terobati dengan keindahan alamnya. Pantai pasir yang memanjang 12 km dan cukup datar sangat asyik untuk bermain bola atau permainan lainnya. Kondisi pantai Pesona ini mirip dengan kondisi Pantai Sanur di timur Bali dengan pasir yang datar. Jika kondisi cuaca bagus di malam hari, akan terlihat cahaya-cahaya lampu di Port Dickson Malaysia.

Pantai Pesona Pulau Rupat ini menjadi salah satu dari lima daerah unggulan wisata dalam MasterPlan Pariwisata Nasional untuk Propinsi Riau yaitu Pulau Rupat, Candi Muara Takus, Istana Kesultanan Siak, Bukit 30 dan Kota Pekanbaru. Khusus Kota Pekanbaru lebih mengandalkan kepada Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE), sedangkan 4 daerah lainnya mengandalkan wisata alam, wisata sejarah, dan wisata religius.
 

8:20 PM | Posted in , | Read More »

Balimau Kasai, Tradisi Menjelang Ramadhan

Budaya jika diterjemahkan secara singkat bisa berarti kebiasaan atau aturan yang dihasilkan oleh perenungan hati yang mengikat dan berlaku turun temurun. Sangat masuk akal jika seseorang dari daerah tertentu memiliki karakter dan tatakrama yang tercermin pada kehidupan sehari-hariannya.

Budaya juga tidak bisa dilepaskan dari akulturasinya dengan budaya sebelumnya. Dalam hal ini yang orisinil dan yang otentik hampir tidak ada. Sepertinya halnya Hindu dan Budha yang sempat menjadi kebudayaan mayoritas di Nusantara. Maka jika kini menjelang bulan puasa banyak ritual-ritual adat yang tidak ada dalam budaya Islam, sepertinya inilah yang menjadi kekayaan Nusantara.

Menurut tradisi Hindu, mandi di sungai -khususnya Sungai Gangga, bisa bisa menghilangkan dosa-dosa masa lalu. Beberapa upacara umat hindu yang terkait dengan mensucikan diri antara lain Makara Sankranti, yaitu saat umat Hindu mandi di Sungai Gangga untuk memuja dewa Surya.

Atau di Bali sebelum Hari Raya Nyepi, Upacara Melasti atau yang disebut juga dengan upacara Melis atau Mekilis, umat Hindu melakukan sembahyangan di tepi pantai dengan tujuan untuk mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya ke laut. Upacara ini dilaksanakan sebelum merayakan Tapa Brata penyepian.

Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci, di kebanyakan dusun dan desa di wilayah Jawa muncul tradisi yang disebut Padusan. Sementara itu masyarakat Kampar di Propinsi Riau menyebutnya dengan Balimau Kasai.

Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas. Sedangkan kasai adalah wangi-wangian yang dipakai saat berkeramas. Bagi masyarakat Kampar, pengharum rambut ini (kasai) dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala, sebelum memasuki bulan puasa.

Di Kota Pelalawan upacara yang sama dikenal dengan nama Balimau Kasai Potang Mamogang. Di Sumatra Barat dikenal dengan istilah yang hampir mirip, yakni Mandi Balimau. Khusus untuk Kota Pelalawan, tambahan kata potang mamogong mempunyai arti menjelang petang karena menunjuk waktu pelaksanaan acara tersebut.

Setiap tahunnya apabila bulan Ramadhan menjelang, maka sepanjang jalan arah ke Bangkinang menjadi ramai dan hiruk pikuk oleh kendaraan dan orang-orang yang berlalu lintas. Bukan hanya masyarakat kampar yang pulang ke kampung halamannya, akan tetapi masyarakat luar Kampar pun memiliki animo yang cukup besar untuk melihat secara langsung acara tahunan tersebut.

Acara biasanya dilakukan disepanjang Sungai Kampar dengan membuat stant-stant, rumah adat, rumah ibadah dan lain sebagainya lalu di alirkan sepanjang sungai Kampar, pada akhirnya dilakukan Mandi Balimau.

Balimau Kasai yang dilaksanakan sehari sebelum datangnya Ramadhan selalu menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, terutama dari mereka yang memandang pelaksanaan acara Balimau Kasai tersebut lebih merupakan suatu kegiatan hura-hura yang tidak ada relevansinya sama sekali dengan Ramadhan yang suci dan penuh ampunan.

Namun di balik itu Balimau Kasai hakikatnya adalah sesuatu kegiatan budaya tradisi adat masyarakat Kampar sejak dahulunya, sejak adanya komunitas masyarakat di Kampar yang berada dalam persekutuan adat. Dan acara Balimau Kasai pada awalnya sangat sarat dengan nilai-nilai agama dan budaya yang luhur.

sumber: oktomagazine.com

7:32 PM | Posted in , | Read More »

Berselancar di Sungai Kampar

Kegiatan berselancar biasanya dilakukan di sekitar pantai, tapi tidak di Sungai Kampar, Riau. Di Sungai Kampar, ada gelombang Bono dan menjadi salah satu tempat berselancar yang terkenal di kalangan peselancar dunia.

Gelombang Bono adalah gelombang besar yang terjadi akibat pertemuan arus Sungai Kampar dengan arus Laut Cina Selatan dan arus dari Selat Malaka. Arus yang sangat besar, kuat dan tinggi. Ketinggian gelombangnya bisa mencapai 4-6 meter dan diiringi dengan suara gemuruh yang kencang. Fenomena seperti ini juga terdapat di Pororoca, Sungai Amazon.

Anda dapat berselancar dan menantang gelombang Bono di Sungai Kampar dengan menempuh perjalanan sekitar 6-7 jam dari Pekanbaru. Sungai Kampar terdapat di Desa Teluk Meranti. Desa ini berada di timur laut dari Pekanbaru.

Berselancar menaklukan Gelombang Bono bukanlah berselancar biasa. Dibutuhkan pengalaman berselancar yang tinggi, ketangkasan dan mental yang besar. Hal ini, karena kondisi air yang mengandung lumpur-lumpur sungai. Bagi Anda para pemula, jangan sekali-kali mencoba berselancar di tempat ini. Sebab, papan seluncur akan lebih berat digunakan dan ditambah gelombangnya yang besar, tentu hal ini dibutuhkan keahlian yang khusus.

Puncak Gelombang Bono terjadi pada Bulan November hingga Februari. Banyak para peselancar yang datang dan mencoba untuk menaklukan Gelombang Bono pada bulan-bulan tersebut. Saat itulah Gelombang Bono mencapai ketinggian 6 meter, yang biasanya hanya mencapai 4 meter. Sungguh menjadi suatu tantangan tersendiri bagi Anda untuk menaklukan gelombang Bono.

Dulu, Gelombang Bono terkenal dengan keganasan dan sangat menakutkan. Banyak kapal-kapal yang karam akibat gelombang raksasa ini. Tak heran, masyarakat Teluk Meranti menyebut Bono sebagai jelmaan dari 7 mahluk halus. Namun, di balik cerita tersebut, Gelombang Bono telah menyihir para peselancar internasional untuk datang dan membuktikannya sendiri.(dtc/rpo)

6:56 PM | Posted in , | Read More »

Pulau Jemur yang Penuh Pesona

PULAU JEMUR - RiauPortal.com - Kawasan pulau Jemur terletak lebih kurang 45 mil dari ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Bagan Siapi-api, Riau. Pulau cantik ini hanya 45 mil dari negara tetangga yakni Malaysia, sedangkan Propinsi Sumatera Utara merupakan propinsi yang terdekat dari Pulau Jemur. Pulau Jemur sebenarnya merupakan gugusan pulau-pulau yang terdiri dari beberapa buah pulau antara lain, Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik serta pulau-pulau kecil lainnya.

Pulau-pulau yang terdapat di Pulau Jemur ini berbentuk lingkaran sehingga bagian tengahnya merupakan laut yang tenang. Pada musim angin barat laut tiba, gelombang di Selat Malaka sangat besar sehingga biasanya nelayan-nelayan yang sedang menangkap ikan disekitar perairan Pulau Jemur ini berlindung di bagian tengah Pulau Jemur yang terdapat air laut yang tenang. Setelah gelombang laut mengecil atau badai berkurang barulah para nelayan keluar untuk memulai aktivitas menangkap ikan kembali.

Pulau Jemur memiliki pemandangan dan panorama alam yang indah, selain itu Pulau Jemur ini amat kaya dengan hasil lautnya, disamping penyu-penyu tersebut naik ke pantai dan bertelur, penyu tersebut menyimpang telurnya di bawah lapisan pasir-pasir pantai, satwa langka ini dapat bertelur 100 sampai 150 butir setiap ekornya. Selain itu Pulau Jemur juga terdapat beberapa potensi wisata lain diantaranya adalah Goa Jepang, Menara Suar, bekas tapak kaki manusia, perigi tulang, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, Taman Laut dan pantai berpasir kuning emas.

Perjalanan dari pelabuhan Bagansiapiapi, membutuhkan waktu 2 jam. Dari kepulauan itu terdapat 2 pulau yang agak besar. Di satu pulau didirikan pos pemantau Angkatan Laut Indonesia, sementara di pulau lainnya didirikan pos pelabuhan perikanan Pemda Rokan Hilir. Di sisi pantai pada pulau yang dihuni oleh Angkatan Laut tersebut terdapat beberapa bangunan yang menjadi tempat tinggal para prajurit dan juga sebuah taman menghadap ke laut.

Untuk sampai di Pulau Jemur yang sebagian orang menyebutnya Pak-ku yang dalam dialek Hokkian berarti penyu dari utara itu, bisa menyewa kapal nelayan atau menggunakan jasa penyewaan speedboat dengan kapasitas 60-100 penumpang, tergantung besar kecilnya speedboat. Bagi umat muslim, terdapat bangunan mesjid yang cukup bersih dan nyaman yang bisa dimanfaatkan. Selain itu juga terdapat sebuah taman kecil yang berada persis di pinggiran garis pantai.

Hamparan pasir kuning keemasan membuat pulau ini semakin menakjubkan, ditambah lagi air yang sangat bening. Tidak aneh bila Pulau Jemur ini mendapat julukan Zamrud di Selat melaka. Sementara di pulau yang lainnya, wisatawan akan menemukan pasir putih halus yang memanjakan kaki. Berbeda dengan pantai di Pulau bali, sepanjang garis pantai yang dilintasi terlihat banyak batu karang. Pulau Jemur memiliki pemandangan laut yang cantik dan kaya dengan berbagai ragam ikan, satwa laut, dan terumbu karang.

Selain punya potensi wisata, pulau tersebut juga punya latar belakang sejarah. Selama Perang Dunia II, Jepang membangun pertahanan di pulau tersebut. Sebagai bukti sejarah, di kawasan itu juga terdapat goa bernama goa jepang. Wajar, bagi yang pernah datang berkunjung bakal kembali mengagendakan libur ke Pulau Jemur.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Riau mengaku telah memproyeksikan Pulau Jemur di Kabupaten Rokanhilir sebagai obyek wisata pendidikan. Namun, hingga kini pengembangan pulau itu terbentur oleh dana dan fasilitas pendukung.(rpo)

6:41 PM | Posted in , | Read More »

Pesona Wisata Bukittinggi

KOTA  Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini sebelumnya disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya pernah juga dijuluki sebagai Paris van Sumatra selain kota Medan, dan kota Bukittinggi juga pernah menjadi ibu kota negara Indonesia.

Kota ini merupakan kota kelahiran salah seorang Proklamator RI yaitu Bung Hatta, disebut juga sebagai kota pusaka dengan Jam Gadang, yaitu sebuah landmark di ketinggian jantung kota, berbentuk jam besar mirip Big Ben, sekaligus menjadi simbol bagi kota yang juga berada pada tepi sebuah lembah yang bernama Ngarai Sianok.

Selain itu kota Bukittinggi juga terkenal sebagai kota wisata yang berhawa sejuk, dan bersaudara (sister city) dengan Seremban dari Negeri Sembilan di Malaysia.

Selain itu juga mempunyai tempat terindah. Nah Ini tempat yang anda harus sambangi:

Jam Gadang
Jam Gadang adalah sebutan bagi sebuah menara jam yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat. Jam Gadang adalah sebutan yang diberikan masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu, karena memang menara itu mempunyai jam yang "gadang", atau "jam yang besar" (jam gadang=jam besar; "gadang" berarti besar dalam bahasa Minangkabau).

Sedemikian fenomenalnya bangunan menara jam bernama Jam Gadang itu pada waktu dibangun, sehingga sejak berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi Sumatera Barat.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun.

Denah dasar (bangunan tapak berikut tangga yang menghadap ke arah Pasar Atas) dari Jam Gadang ini adalah 13x4 meter, sedangkan tingginya 26 meter.

Jam Gadang ini bergerak secara mekanik dan terdiri dari empat buah jam/empat muka jam yang menghadap ke empat arah penjuru mata angin dengan setiap muka jam berdiameter 80 cm.

Menara jam ini telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk pada bagian puncaknya. Pada awalnya puncak menara jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Saat masuk menjajah Indonesia, pemerintahan pendudukan Jepang mengubah puncak itu menjadi berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

Pembangunan Jam Gadang ini konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Namun hal itu terbayar dengan terkenalnya Jam Gadang ini sebagai markah tanah yang sekaligus menjadi lambang atau ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang juga ditetapkan sebagai titik nol Kota Bukittinggi.

Ada satu keunikan dari angka-angka Romawi pada muka Jam Gadang ini. Bila penulisan angka Romawi biasanya mencantumkan simbol "IV" untuk melambangkan angka empat romawi, maka Jam Gadang ini bertuliskan angka empat romawi dengan simbol "IIII" (umumnya IV).

Ngarai Sianok
Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, dengan Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai di Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang indah dan menjadi salah satu objek wisata utama provinsi.

Jurang ini dalamnya sekitar 100 m membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (Patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau - hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal) - yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai.

Batang Sianok kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak yg disaranai oleh suatu organisasi olahraga air "Qurays". Rute yang ditempuh adalah dari Desa Lambah sampai Desa Sitingkai Batang Palupuh selama kira-kira 3,5 jam. Di tepiannya masih banyak dijumpai tumbuhan langka seperti rafflesia dan tumbuhan obat-obatan. Fauna yang dijumpai misalnya monyet ekor panjang, siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul, serta tapir.

Lobang Jepang
Lobang Jepang merupakan salah satu objek pelancongan yang ada dalam Kota Bukittinggi dan merupakan peninggalan sejarah dari kependudukan Jepang selama berada di Bukittinggi.

Karena Bukittinggi yang sangat strategis, terletak di tengah - tengah Pulau Sumatera, maka penjajah Jepang menetapkan Kota Bukittinggi sebagai Pusat Komando Pertahanan Tentara Jepang di Sumatera (Seiko Sikikan Kakka) yang dipimpin oleh Jenderal Watanabe.

Sebagai kubu pertahanan militer bagi Jepang dibuatlah terowongan dibawah jantung kota Bukittinggi, disamping berfungsi sebagai pertahanan juga dipersiapkan sebagai penyimpan amunisi, barak, ruang makan, rumah sakit, ruang sidang dan dapur, yang jumlah keseluruhan ruangan 27 buah dan merupakan satu komplek lengkap, seperti denah yang dapat dilihat pada dinding pintu masuk.

Panjang lobang yang terdapat dilokasi Panorama ini lebih kurang 1400 meter, sedangkan panjang keseluruhan yang berada di bawah Kota Bukittinggi diperkirakan lebih kurang sekitar 5000 meter, dengan demikian yang terawat/terpelihara baru 30% dari lobang yang ada.

Kegunaan utama dari Lobang Jepang ini adalah sebagai basis pertahanan militer penjajah Jepang dari serangan Sekutu maka pembangunannya sangat dirahasiakan, dan tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan lobang jepang ini mulai dibangun. Hanya dapat diperkirakan beberapa bulan sesudah Maret 1942, saat Jepang merebut Kota Bukittinggi dari tangan Pemerintah Belanda.

Tenaga kerja kasar untuk mengali Lobang ini diambil dari orang - orang Indonesia yang ditangkap dari daerah lain, seperti dari pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera Selatan dan lain sebagainya, sedangkan hasil tangkapan dari Bukittinggi sendiri di bawa pula ke daetrah lain untuk dipekerja paksakan pula pada proyek - proyek lainnya, seperti le Loge untuk m,embuat jalan kereta api yang akan menghubungkan Muaro Sijunjung dengan Pekanbaru Riau. Namun pekerjaan ini tidak kunjung slesai, karena Jepang keburu kalah ditangan tentara Sekutu.

Tenaga teknis dalam pembangunan Lobang ini diambilkan dari orang - orang Indonesia yang bekerja di Tambang Batu bara Ombilin Sawahlunto yang berasal dari pulau Jawa.

Semua tenaga kerja kasar tidak sati orangpun yang dapat menyelamatkan diri, semuanya meningal disebabkan kekurangan makanan dan siksaan dari tentara Jepang. sehingga kerahasiaan Lobang tetap terpelihara.

Sekalipun Lobang ini dapat diselesaikan, namun belum sempat dimanfaatkan secara sempurna, karena Jepang keburu bertekuk lutut kepada tentara Sekutu akibat Dua Buah Atom yang dijatuhkan Tentara Sekutu di Kota Nagasaki dan Hirosima pada tanggal 7 dan 8 Agustus 1945, dan berlanjut dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno - Hatta.

Saat ini Lobang Jepang ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan baik Mancanegara maupun Nusantara dan merupakan objek wisata favorite di Bukittinggi dan bahkan Sumatera Barat.

Kondisi dalam terowongan
Dari pintu gerbang, kita menurunbi anak tangga sebanyak 135 buah, apabila anak tangga ini tingginya rata - rata 20 cm, dengan demikian 135 anak tangga berarti kita telah turun setinggi 27 M. jika kita bandingkan lagi tempat kita berdiri sekarang dengan jalan yang ada diatas kita, mempunyai perbedaan tinggi lebih kurang 5 M. dari perhitungan ini diketahuilah bahwa dasar Lobang berkisar antara 30 sampai 40 M dari permukaan tanah. Kedalaman ini sudah cukup aman dinilai oleh Jepang terhadap serangan udara dari Tentara Sekutu.(*)

sumber: okezone

6:57 AM | Posted in , | Read More »

Bali Bukan Hanya Kuta dan Legian...

Menikmati Kuta dan Legian dengan segala hiruk pikuk, kemacetan dan keindahan pantainya, mungkin sudah menjadi agenda wajib bagi Anda yang berlibur ke Bali. Namun Bali bukan hanya Kuta dan Legian, timur barat selatan utara Bali, adalah taman wisata yang akan mengingatkan kepada Anda, betapa Bali adalah destinasi wisata yang sulit untuk ditolak.

Keindahan seni dan budaya yang menghipnotis, melihat langsung lukisan alam yang maha sempurna, bermanja ria di kapal pesiar nan mewah hingga mengenal lebih dekat sisa-sisa keraton Bali, bisa menjadi alternatif menarik untuk mengisi akhir pekan Anda kali ini.

JUMAT. Klungkung menjadi salah satu destinasi istimewa dalam akhir pekan kali ini. Selain terkenal dengan kesenian dan kerajinan, nama Klungkung tak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan yang ada di Bali. Masih berdiri dengan megah di tengah Kota Semarapura, Kerajaan Klungkung yang pernah berjaya pada abad ke 17.

Pecahnya Puputan Klungkung pada 28 April 1908 menjadi titik jatuhnya kekuasaan Kerajaan Klungkung. Belanda pun menghancurkan kompleks kerajaan, sehingga palebahan atau bagian bangunan saat ini tidak selengkap sebagaimana aslinya. Tapi jangan khawatir, palebahan yang tersisa yaitu Pemedal Agung, Bale Kertagosa dan Bale Kambang, mampu memberi gambaran masa keemasan Kerajaan Klungkung. Rangkaian batu bata dan tanaman yang beraneka ragam menemani arsitektur Bali yang kental.

Tak sulit untuk menemukan komplek kerajaan ini. Satu jam saja perjalanan yang Anda butuhkan dari Denpasar untuk mencapai lokasi Kerajaan Klungkung yang terletak di Bali timur.

Pengaruh kekuasaan ras Eropa di Klungkung tampak dari landscape dan patung yang ada di muka Pemedal Agung. Anda akan menemukan patung bali menggunakan topi ala bangsawan Eropa. Masyarakat setempat percaya bahwa pemedal agung ini merupakan tempat suci untuk berdoa, ataupun memohon restu.

Dari jauh nampak bangunan megah yang dikelilingi tembok rendah yang seolah-olah mengapung di tengah kolam teratai. Setelah melewati kurang lebih 16 anak tangga, tibalah Anda di Bale Kambang. Dinamakan Bale Kambang karena bangunan ini terlihat mengapung di atas kolam.

Sepintas bangunan ini memang terlihat biasa saja, hanya hamparan lantai dan Anda tidak akan menemukan patung atau aksesoris lain. Tapi coba tengok ke langit-langit bale, anda akan dibuat terpana oleh lukisan wayang dengan tema cerita Kakawin Ramayana dan Sutasoma.

Beberapa lukisan di Bale Kambang, menggambarkan sifat manusia berdasarkan hari kelahiran, atau dalam bahasa Bali disebut pelelintangan. Hmm... kira-kira gambar mana yah yang cocok dengan Anda....

Selain sebagai tempat berkumpulnya keluarga kerajaan, Bale Kambang ini memiliki fungsi tempat pelaksanaan upacara keagamaan Manusa Yadnya, yaitu upacara potong gigi putra-putri kerajaan.

Tak puas dimanjakan dengan pesona Bale Kambang, Anda pun bisa melangkahkan kaki menuju pojok kawasan ini. Terlihat kokoh dan tegas bak seorang hakim, Bale Kertagosa, berdiri dengan gagah.

Pada masa kejayaannya, bangunan ini adalah lokasi pengadilan Kerajaan Klungkung. Kursi dan meja yang terdapat di dalam ruangan masih dipertahankan keasliannya. Langit-langit Kertagosa pun dipenuhi dengan lukisan wayang kamasan.

Dari mana asal lukisan Klungkung? Mari kita singgah di Desa Kamasan, Anda akan menemukan pemandangan bocah-bocah Kamasan yang dengan tekun melukis tokoh-tokoh pewayangan. Atau ibu-ibu yang dengan teliti membuat kerajinan tangan nan cantik yang dihiasi dengan lukisan tradisional yang bertema pewayangan, khas Desa Kamasan. Lukisan berbagai ukuran, tas cantik, gelang, topi, sampai kipas, bisa anda borong sebagai buah tangan.

SABTU. Masih dalam wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Lembongan atau dalam bahasa Bali disebut Nusa Lembongan adalah pulau kecil yang termasuk dalam rangkaian surga tiga pulau yang berada di tenggara Bali yakni Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan. Pulau ini menyajikan berbagai macam fasilitas rekreasi yang dipadu dengan keindahan pulau dan dunia bawah lautnya. Salah satu fasilitas yang patut Anda coba adalah menyeberang ke Nusa Lembongan menggunakan kapal pesiar mewah alias cruise.

Salah satu operator kapal pesiar mewah yang menawarkan pengalaman berbeda bagi liburan Anda di Nusa Lembongan dalah Bali Hai Cruises. Bertolak dari Pelabuhan Benoa, kapal dengan kapasitas 315 penumpang ini akan memanjakan para wisatawan dengan berbagai fasilitas. Salah satunya adalah mega ponton yang menunggu Anda di Nusa Lembongan.

Dengan ponton seluas 600 meter persegi, Anda dan wisatawan lain akan dimanjakan dengan berbagai kegiatan yang ciamik! Snorkeling, private beach, scuba diving, banana boat, under water viewing chamber dan satu yang wajib dicoba adalah parasailing.

Bayangkan diri Anda berada 100 meter di atas permukaan laut, dan terbang melayang menikmati keindahan Nusa Lembongan. Seruuu!!!!

Parasailing adalah satu permainan bagi pecinta tantangan, dimana Anda akan menggunakan parasut dan ditarik oleh perahu dengan kecepatan tinggi. Wwwuussshh! Bagi Anda yang takut air dan ketinggian, ada baiknya tidak mencoba permainan ini, atau Anda bisa bermain secara tandem dengan instruktur yang berpengalaman.

Fasilitas lain yang rugi jika Anda lewatkan adalah semi submarine. Menyaksikan keindahan bawah laut Nusa Lembongan dengan sensasi yang berbeda. Jika beruntung, Anda bisa menemukan rombongan ikan yang berenang berkelompok. O iya, sebelum memulai kegiatan selanjutnya, hidangan mewah super lezat sudah siap mampir di perut Anda.

Berada di Nusa Lembongan, jelajahi juga kekayaan daratannya. Bersama dengan wisatawan lain, Anda akan diajak melihat pengembakbiakan rumput laut di Desa Nusa Lembongan. Ada 2 jenis rumput laut yang dikembangbiakan di Desa Nusa Lembongan, spinusum dan katuni dengan masa panen 1 bulan.

Lelah bermain seharian, saatnya Anda beristirahat di istana rahasia yang tersembunyi di daerah Payangan, Hidden Palace. Vila dengan 3 kamar tidur super istimewa ini dijamin akan membuat Anda tercengang. Tempat tidur berukuran double king size, private Jacuzzi, outdoor bathroom sudah menanti Anda. Eits... tunggu dulu, bukan hanya itu yang akan membuat Anda terpana. Untuk sebuah ketenangan dan privasi yang ditawarkan, Anda harus merogoh kocek 5.000 dollar AS!

MINGGU. Tak ada yang bisa menyangkal, selain alam nan eksotis, Bali juga menyimpan keeksotisan seni dan budaya yang mampu menghipnotis setiap orang. Kesan agung, suci dan magis erat melekat pada setiap karya cipta.

Begitu pula seni ciptaan masyarakat desa Batubulan, Gianyar. Desa yang menjadi pintu gerbang Kabupaten Gianyar ini menyimpan harta karun yang tak ternilai. Para perupa patung dan penari yang memiliki kemampuan mengagumkan. Kemampuan mereka seakan diwariskan secara turun temurun dan tetap berkembang hingga saat ini.

Daya tarik Desa Batubulan adalah pertunjukan tari peninggalan kebudayaan pra Hindu yang memakai kostum binatang purba yang dipercaya memiliki kekuatan magis dan dianggap sebagai pelindung.

TARI BARONG

Tiap harinya, tepat pukul 09.30 di Desa Batubulan memang diadakan pagelaran tari barong di Pura Puseh. Anda cukup membayar tiket seharga Rp 100.000 untuk bisa menyaksikan tari barong dengan kisah Kunti Sraya.

Tari barong dengan kisah Kunti Sraya ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan yang diwakilkan oleh bintang purba barong, melawan kebatilan yang dilukiskan dengan binatang purbakala rangda.

Sesuai dengan namanya Batubulan, di sepanjang jalanan desa ini berjejerlah kios-kios yang menjajakan patung-patung batu unik nan indah. Mulai dari patung-patung kisah pewayangan hingga patung kontemporer bisa Anda bawa pulang sebagai koleksi. Harganya pun beragam, untuk patung berukuran kecil harga yang ditawarkan berkisar Rp 250.000 sedangkan untuk patung yang tingginya hampir 2 meter, bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Selain Desa Batubulan, ternyata Gianyar masih menyimpan kejutan lainnya. Dibalik kemahsyuran Pura Tirta Empul, ternyata kerajinan tulang masyarakat Tampaksiring juga mencuri perhatian internasional. Anting-anting, gelang, kalung, pajangan, dan masih banyak lagi kerajinan dari tulang serta tanduk yang menanti anda di Desa Tampaksiring.

Di tangan masyarakat Batubulan, kerasnya batu dapat mereka taklukkan menjadi pahatan bernilai seni yang tinggi dan di tangan masyarakat Tampaksiring limbah bongkahan tulang hewan dapat dilahirkan kembali menjadi ukiran yang menawan. (*)

sumber: kompas.com

6:29 AM | Posted in | Read More »