Kisah Sukses si Raja Biodiesel

Martua Sitorus adalah pendiri Wilmar International Limited berasal dari Siantar, Sumatera Utara. Ia adalah lulusan di bidang ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen, Medan, Sumatera Utara.

Walaupun saat ini tinggal di negara tetangga, Singapura, namun lelaki yang lahir di daerah Pematang Siantar, mampu mengembangkan bisnisnya menjadi sangat besar. Upaya menjadi sangat besar sekarang ini dimulai dengan memulai bisnis sebagai seorang pedagang. Ia berusaha mendagangkan minyak sawitnya dan juga kelapa sawitnya di Indonesia dan Singapura.

Martua memperdagangkan kelapa sawit dan minyak sawit kecil di Indonesia dan Singapura.. Dan, pada tahun 1991 Martua mampu memproduksi minyak sendiri lewat luas areal tanaman kelapa sawit 7100 hektar yang dimilikinya di Sumatera Utara.

Kegiatan tersebut dikerjakan dengan baik hingga ia mampu membeli kebun kelapa sawit yang sangat luas di daerah Sumetara Utara. Bersamaan dengan pembelian kebun tesebut, ia juga membangun perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan minyak yang dikhususkan dalam pengolahan minyak kelapa sawitnya.

Pada 1996 Martua berekspansi ke Malaysia untuk membangun pabrik pengolahan kelapa sawit di sana. Tidak puas dengan itu, Martua mulai melirik bisnis hilir (produk turunan) yang lebih berharga. Pada 1998 Martua untuk pertama kalinya membangun pabrik yang memproduksi lemak khusus. Kemudian pada tahun 2000 ia juga meluncurkan produk konsumen merek minyak goreng Sania.

Selanjutnya, tahun demi tahun bisnis Martua tumbuh menjadi salah satu perusahaan agribisnis terbesar di Asia yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pada tanggal 31 Desember 2005, Wilmar memiliki total luas lahan perkebunan kelapa sawit 69.217 hektar, 65 pabrik, tujuh kapal tanker, dan 20.123 karyawan. Wilmar mengekspor produk-produknya ke lebih dari 30 negara.

Puncaknya, Wilmar mencatat Martua di bursa saham Singapura pada bulan Agustus 2006 dengan kapitalisasi pasar mencapai US $ 2 miliar.

Awalnya, Martua Sitorus yang memiliki julukan Ahok, hanya dikenal sebagai pemasok kecil minyak kelapa sawit. Ia banyak membeli minyak dari negara-negara dan perusahaan untuk menjual lebih banyak di luar negeri. Namun, karena Martua yang juga bernama Thio Seng Hap ini lowprofil , tidak banyak orang yang mengetahui kemajuan usaha.

Karena agresif, ia berhasil menangkap pembukaan peluang penjualan pada perusahaan produksi kelapa sawit sebelum negara, pada pada era Orde Baru hanya dikuasai oleh kelompok konglomerat di Indonesia. Sumber Warta Ekonomi menyebutkan jika perusahaan besar di Jakarta yang terkena dampak krisis karyawan rata-rata harus memotong pendapatan sebesar 2,5 persen, maka karyawan mendapatkan manfaat krisis Wilmar bukan 2,5 persen.

Martua Sitorus tidak sendirian dalam mengembangkan Wilmar Corporation. Pada akhir 1980-an, ia menjalin kemitraan dagang dengan Kuok Khoon Hong. pria 57 tahun adalah keponakan Robert Kuok, raja bisnis gula dan proferti Malaysia. Keduanya sepakat untuk mengembangkan bisnis bersama.

Wilmar nama disebutkan sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari kedua nama mereka, yaitu William, nama panggilan Kuok Khoon Hong, dan Martua Sitorus. Mereka berdua adalah pemilik signifikan Wilmar Holdings Pte Ltd (sebuah perusahaan holding Wilmar International Ltd). Keduanya berbagi tugas, Kuok Khoon Hong sebagai chairman & CEO dan Martua sebagai chief operating officer (COO) Wilmar International Ltd.

Martua Sitorus keluarga besar juga memainkan peranan penting dalam mengembangkan Wilmar Corp. Istri (Rosa Taniasuri Ong), saudara (Dual Sitorus), saudara perempuan (Bertha, Mutiara, dan Thio Ida), dan ipar (Suheri Tanoto dan Hendri Saksti) Martua berbagai posisi kunci di Wilmar Corp. Bahkan, Hendri Saksti dipercayakan kepada kepala operasional bisnis Wilmar di Indonesia.

Hendri Saksti bukan hal baru untuk bisnis minyak. President Director of PT Cahaya Kalbar Tbk. Presiden Direktur PT Cahaya Kalbar Tbk. Ini mulai bergabung dengan Wilmar Corp. sebagai manajer cabang operasional bisnis minyak sawit Wilmar di Indonesia dan kemudian diangkat sebagai direktur keuangan operasional Wilmar di Indonesia pada tahun 1996. Darius Na, mantan direktur PT Cahaya Kalbar Tbk., mengungkapkan sebelumnya Hendri juga memiliki karir di PT Astra Agro Lestari Tbk. Darius menggambarkan sosok sebagai pengusaha Hendri cukup ketat dan memiliki visi bisnis untuk selalu berusaha untuk memperbesar kapasitas. "Dia menghitung jumlah orang yang memprioritaskan," katanya.

Kini, bisnis Martua dan Kuok Khoon Hong terus berkembang. Selama sembilan bulan pertama tahun 2006, pendapatan Wilmar Corp. naik 7,8% menjadi US $ 3,7 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2005 sebesar US $ 3,4 miliar. aba bersih selama sembilan bulan pertama tahun 2006 tumbuh 56,4% mencapai US $ 68.300.000 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2005 sebesar US $ 43.600.000.

Saat ini ada dua isu yang mencuat keluar dari Wilmar Corp. First, Pertama, rencana merger Wilmar dan lini bisnis Kuok Group, milik taipan Robert Kuok, di bidang agrobisnis (PPB Oil Palms Berhad, PGEO Group Sdn. Bhd, dan Kuok Oil & Grains Pte Ltd). Merger ini diharapkan membuat Wilmar sebagai salah satu dari 15 perusahaan terbesar di bursa efek Singapura berdasarkan nilai kapitalisasi pasar. Oleh karena itu, penggabungan ini akan memberikan potensi kapitalisasi pasar Wilmar diperkirakan sebesar US $ 7 miliar. Merger ini juga diharapkan untuk menghasilkan pendapatan gabungan US $ 10 milyar dan laba bersih sebesar US $ 300 juta selama sembilan bulan pertama tahun 2006.

Warta Ekonomi mengatakan merger tidak akan melangkah keluar dari situasi yang terjadi dalam keluarga taipan Robert Kuok. Konglomerat tumbuh lebih tua, tetapi ia tidak merasa nyaman menyerahkan lini agrobisnis Kuok Group untuk anak-anaknya, jadi dia berbalik kembali kepada Kuok Khoon Hong, keponakannya. Pada awalnya, sebenarnya Kuok Khoon Hong adalah juga mendorong orang agribisnis garis Kuok Group. "Namun, karena ada perbedaan visi, Kuok Kuok Khoon Hong memilih keluar dari Group dan merintis bisnis mereka sendiri dengan Martua Sitorus," katanya. Kuok Khoon Hong mendapatkan pasokan minyak kelapa sawit dari Martua dan ia kemudian diekspor ke berbagai negara. "Kombinasi dari embrio Wilmar muncul," jelasnya.

Kedua, rencana ekspansi Wilmar ke bisnis biodiesel. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung menggebrak dengan pembangunan tiga pabrik biodiesel dijadwalkan akan selesai tahun ini dibangun seluruhnya. Masing-masing memiliki kapasitas produksi sebesar 350.000 ton per tahun sehingga total kapasitas mencapai 1,050 juta ton per tahun.

Sejauh ini, belum ada pabrik biodiesel yang dimiliki oleh perusahaan lain di dunia yang memiliki kapasitas produksi sebesar Wilmar. Selain itu, jika rencana merger direalisasikan, tanaman biodiesel milik PGEO Group Sdn. Bhd.business. dengan kapasitas 100.000 ton per tahun akan terus memperkuat bisnis biodiesel Wilmar.

Menurut Alex Umboh, kepala urusan hukum dan perusahaan Wilmar Corp di Indonesia, bisnis biodiesel Wilmar prospektif, karena permintaan yang banyak. Selain permintaan dalam negeri sendiri mereka juga datang dari Eropa, Cina, dan Amerika Serikat. Wilmar siap memasoknya. "Di kawasan industri Dumai (di mana tiga pabrik biodiesel Wilmar berada), kami juga telah dilengkapi dengan pelabuhan," kata Alex. Jadi sekarang tidak hanya Martua pantas nama "raja minyak sawit Asia", tetapi juga layak disebut "raja biodiesel dunia".

Tahun 2012, Martua Sitorus kembali masuk daftar orang terkaya di Indonesia ke 4 dengan total kekayaan  mencapai $3 milliar.(rpo)

7:31 PM | Posted in , | Read More »

Denni, Ciptakan Makanan Khas Batam

Denni sebenarnya bukan seorang koki atau pembuat kue. Latar belakang pendidikannya sarjana teknik elektro. Sejak tahun 2003, ia bekerja sebagai karyawan pada sebuah perusahaan elektronik di Batam dengan gaji pokok sekitar Rp 1,2 juta per bulan.

Akan tetapi, kerisauan dan ketidakpuasan menjadi seorang karyawan membuat dirinya mampu mengubah pola pikir. "Setelah lulus kuliah, saya bekerja di pabrik dengan sistem shift. Saya berpikir, kok cuma begini- begini saja," katanya.

Bekerja shift dengan penghasilan yang tidak terlalu besar sering kali membuat pekerja bosan. Ia pun mulai berpikir untuk bisa berusaha untuk menambah penghasilan. Di tengah kesibukan sebagai karyawan, akhir 2004, Denni menjual kerupuk udang yang diambil dari orang lain.

"Waktu berangkat kerja, saya titip saja di warung-warung di sekitar pabrik di Mukakuning. Setelah pulang kerja, saya ambil uangnya," kata Denni Delyandri. Penghasilan penjualan kerupuk udang pun lumayan, yaitu sekitar Rp 800.000 per bulan atau lebih dari separuh dari gaji pokok.

Namun, pekerjaan sambilan itu hanya dilakukan sekitar empat bulan. Kesibukan di pabrik dengan kerja shift tidak lagi dapat memberi peluang untuk bisnis sambilan. Sementara itu, istrinya pun sedang mengandung.

Denni kemudian mencobaberjualan kue onde-onde yang juga diambil dari orang lain. Pekerjaan sambilan itu pun hanya dilakukan beberapa bulan.

Akhir 2005, keinginan untuk berwiraswasta mulai dirintis lagi. Dengan uang pinjaman dari koperasi karyawan sebesar Rp 10 juta, ia memulai usaha rumah makan padang. Namun, bisnis rumah makan yang dibuka di depan rumah hanya berlangsung dua bulan.

"Strateginya salah. Di situ sudah ada dua rumah makan, tetapi saya buat di situ lagi," kata Denny. Tambahan modal untuk menyuntik usaha pun tidak ada lagi. Akhirnya, aset rumah makan dijual senilai Rp 5 juta kepada rekannya.

Baca Buku
Jatuh bangun untuk memulai usaha tidak membuat dirinya patah arang. Apa yang mendorong Denni untuk terus-menerus berusaha dan memulai sesuatu yang baru?

Menurut Denni, dia membaca buku Rich Dad and Poor Dad karangan Robert T Kiyosaki. Buku yang spektakuler itu memberikan inspirasi bagi dia.

Pesan yang diambil dalam buku itu adalah bahwa seseorang harus berpikiran positif, berani menempuh suatu perjalanan yang baru, dan selalu berani menangkap peluang. Itulah yang memotivasi dan membuat Denni mampu bertahan dalam jatuh dan bangun lagi untuk memulai suatu usaha.

Setelah gagal berbisnis rumah makan padang, ia memulai lagiusaha event organizer (EO) pada April 2006. Pada mulanya, bisnis itu memang cukup menguntungkan. Pekerjaan sebagai karyawan di perusahaan elektronik pun ditinggalkan pada Juli 2006.

Bisnis itu terus digeluti. "Saya pernah mendapat keuntungan Rp 10 juta-Rp 15 juta dalam satu event," katanya.
Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, mencari sponsor pun tidak semudah yang dibayangkan. Kelelahan untuk mencari sponsor membuat pekerjaan sebagai EO pun ditinggalkan pada September 2006.

Denni pulang ke kampung halaman di Padang saat Lebaran tahun 2006. Setelah pulang kampung, ia kembali ke Batam dan mencoba bisnis kue pisang. Kue pisang itu dibuat oleh istrinya, Selvi. Pada mulanya, kue- kue pisang yang dibuat hanya ditawarkan kepada tetangga.

Dengan berbagai buku manajemen dan marketing yang "dilahapnya", termasuk kemampuan menangkap peluang, Denni mulai menjalankan pemasaran kue pisang.

Kue pisang difoto dan ditawarkan kepada teman-teman untuk dijual dengan imbalan Rp 3.000 dari harga kue Rp 15.000 per potong. Dengan berbekal foto-foto itu, teman-temannyamenawarkan kue ke pabrik-pabrik.

Suatu saat, ia pun mendapat pesanan kue pisang sebanyak 40 potong. Pesanan yang cukup mengagetkan itu membuat Denni dan istri kewalahan memenuhinya.

"Oven untuk membuat kue di rumah terlalu kecil. Jadi, saya dan istri harus bergadang sampai pagi untuk membuat kue dan memenuhi pesanan itu. Rumah pun sudah seperti kapal pecah," kata Denni. Saat itu, dia tinggal di Perumahan Villa Mukakuning.

Setelah berjalan dua minggu sejak pesanan kue sebanyak 40 potong itu, ia pun membeli oven yang lebih besar seharga Rp 3,5juta dengan cara pembayaran dicicil.

Usaha kue pisang yang dijalankannya terus berkembang. Pesanan juga terus bertambah. Awal 2007, pesanan kue pisang sudah mencapai 100-150 loyang per hari.

Untuk memperluas usaha, ia pun mencoba mencari kredit dari bank. Pinjaman sebesar Rp 40 juta diperoleh dari Bank Danamon yang digunakan untuk menyewa rumah toko (ruko) di Mukakuning.

Pada suatu waktu, ada pembeli yang ingin membeli kue pisang untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Saat itulah Denni mulai berpikir bahwa kue pisang yang dibuatnya dapat menjadi oleh-oleh dari Batam sebagai makanan khas. Apalagi, Batam belum memiliki makanan yang khas.

Dengan keberaniannya, ia pun memasang iklan billboard. Melalui iklan itu, ia berani mengklaim atau menjadikan kue pisang sebagai makanan khas Batam.

Slogan yang dibuat untuk produk yang dijual Denni adalah "Batam, ya kek pisang Villa". Istilah "Villa" berasal dari nama tempat ia membuat kek pisang, yaitu Perumahan Villa Mukakuning, Batam.

Dengan slogan dan strategipemasaran, Denny pun telah menciptakan produk dan merek tersendiri. Hak paten merek itu juga sudah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual.

38 Karyawan
Masyarakat pun, baik penduduk Batam, pendatang, maupun para turis, semakin ingin mengetahui kue pisang buatan Denni. Untuk menarik turis ke gerai-gerai kek pisang, Denni pun bekerja sama dengan perusahaan atau agen perjalanan wisata. Dengan cara itu, bisnis kue pisang pun semakin berkembang. Kini di Batam Center sudah ada dua ruko yang menjual kue pisang buatan Denni.

Pertengahan 2008, Denni mendapat kredit lagi sebesar Rp 500 juta dari Bank Bukopin untuk memperluas usaha. Uang itu digunakan untuk menyewa ruko, outlet, dan membeli peralatan produksi. Kini, dia sudah memiliki empat gerai. "Saya mau tambah satu outlet lagi dibandara sehingga nanti menjadi lima outlet," katanya.

Perkembangan gerai-gerai itu tentu disambut positif oleh Pemerintah Kota Batam. Apalagi, Pemkot Batam sedang gencar-gencarnya mencanangkan "Visit Batam 2010".

Dengan outlet-outlet "makanan khas" Batam diharapkan para turis atau pendatang yang datang ke Batam dapat menemukan oleh-oleh untuk dibawa pulang, yaitu "Kek Pisang Villa".

Usaha mandiri kek pisang itu juga mendapat respons positif dan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kepulauan Riau.

Terakhir, ia mendapat penghargaan sebagai juara III tingkat nasional Wirausaha Muda Mandiri yang diberikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Denni yang dulu menjadi karyawan perusahaan elektronik itu kini tumbuh sebagai usahawan muda yang mempekerjakan 38 orang.

sumber: kompas.com

9:05 PM | Posted in , | Read More »

Bekas Kenek Jadi Pengusaha Sukses di London

LONDON - Suara Pance Pondaag menyanyikan Demi Kau dan Si Buah Hati menemani Firdaus Ahmad menyetir Mercedes 120 CDI di jalanan London yang padat pada suatu siang akhir Februari lalu. Mobil jembar yang sanggup mengangkut sepuluh orang itu adalah kendaraan "dinas" laki-laki 54 tahun ini dari rumah ke restorannya.

Nusa Dua Restaurant berdiri di sudut Dean Street 11, Soho, di jantung ibu kota Inggris itu. Bangunan tiga lantai ini satu-satunya restoran Indonesia di kawasan belanja dan tempat nongkrong anak-anak muda itu. "Sejak Presiden Barack Obama datang ke Indonesia, menu favorit di sini nasi goreng," kata Daus.

Selain itu, ada banyak makanan khas Indonesia di daftar menu: ayam kremes, sayur asem, sambal terasi, tahu isi, soto ayam, tempe, dan kerupuk udang. Saya makan di sana ketika restoran masih tutup menjelang sore. Tapi, di depan pintu, pelanggan dari pelbagai ras yang akan makan malam sudah antre mengular.

Resto ini adalah buah kerja keras Daus selama 20 tahun. Ia tiba di London pada akhir 1981 dengan tiket pesawat yang dikirim saudaranya, sopir di Kedutaan Besar Indonesia di London. Daus nekat berangkat ke Inggris karena penghasilan sebagai kondektur angkutan kota Kampung Melayu-Bekasi tak menentu.

Mendarat di Bandar Udara Heathrow yang sibuk, lulusan SMA 1 Indramayu ini termangu dua jam. Ia tak tahu jalan keluar. Ia amati setiap penumpang. Asumsinya, orang yang kusut pasti baru mendarat setelah penerbangan yang jauh. Ia ikuti mereka menyeret koper. "Saat itu saya baru tahu arti ''exit'' itu keluar," katanya, terbahak, seperti dikutip tempo.co.

Daus lalu bekerja di restoran Indonesia sebagai pencuci piring. Tapi resto ini tak berumur lama. Pemiliknya ketahuan mengakali pajak. Pemerintah mengambil alih dan menjualnya. Pembelinya adalah tukang masak asal Malaysia. Resto itu kini jadi rumah makan Asia yang tukang masaknya adalah pemilik lama, bekas majikan Daus.

Seorang pengusaha Singapura kemudian mendirikan Nusa Dua Restaurant. Daus diajak bergabung dan naik pangkat jadi chef. Tapi perkongsian ini hanya bertahan tiga tahun. Pengusaha itu tak sanggup membayar cicilan modal. Royal Bank of Scotland (RBS) menyitanya. Daus kelimpungan tak punya pekerjaan.

Pada 1991 ia sudah menikahi Usya Suharjono, perempuan manis yang tengah kuliah kesekretariatan di London. Ayah Usya adalah wartawan radio BBC seksi Indonesia. Ia mengikuti orang tuanya ke London setelah lulus SMA 2 Jakarta Pusat pada 1983. Daus punya ide mengambil alih Nusa Dua.

Usya maju sebagai negosiator dengan bank karena ia fasih berbahasa Inggris. Daus hingga kini masih gagap. Kepada tiga anaknya, ia berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi dijawab dalam bahasa Inggris. Usya membujuk bahwa resto itu merugikan RBS karena tak mendatangkan untung, sementara pajak tetap harus dibayar.

Daus meyakinkan mereka akan mengelola rumah makan dengan jaminan membayar cicilan 1.000 pound tiap bulan tepat waktu. ”Jika tahun pertama pembayaran tak jelas, bank silakan ambil alih lagi,” katanya. Deal. RBS ternyata setuju.

Sejak itu, Daus yang pegang kendali. Ia belanja, ia memasak, ia pula yang melayani pembeli. Karena makanan racikannya enak, pelanggan lama kembali, dan pembeli baru berdatangan. Restorannya mulai untung dengan omzet 10 ribu pon (Rp 140 juta) setiap pekan. Dalam waktu enam tahun, utang 100 ribu pound lunas.

Tabungannya mulai kembung. Daus membeli sebuah rumah seluas 300 meter persegi seharga Rp 5,2 miliar di sudut jalan dekat sekolah anaknya. Rumah sembilan kamar itu kini disewakan kepada pelancong asal Indonesia dengan tarif 19,5 pound semalam. Meski tak ada papan nama, orang tahu rumah bata merah di sudut jalan kompleks elite Colindale itu ”Wisma Indonesia”.

Daus-Usya tinggal tak jauh dari situ. Tiga mobil nangkring di garasi. Semuanya Mercedes yang harga satu unitnya rata-rata Rp 1,4 miliar. Daus kerap bolak-balik London-Bekasi untuk menengok keluarga besarnya di Jatiasih.

Setelah semua pencapaian ini, Daus hanya punya satu cita-cita: pulang kampung setelah anak-anaknya mandiri dan membuat taman pendidikan agama untuk anak-anak miskin.(tmc/rpo)

4:03 AM | Posted in , | Read More »

Berawal dari Berburu Resep di Internet

Berawal dari hobi berburu resep masakan di internet, Dian Purwaningtyas berhasil meramu makanan khas Meksiko. Ia lalu menawarkan makanan Meksiko itu ke pasar. Mendapat respons positif, omzet Dian kini ratusan juta per bulan.

Sejak kecil, Dian tak pernah punya keinginan menjadi pengusaha. Selepas kuliah, ia sempat menjadi pengajar di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Namun, kariernya tidak lama. Lantaran hobi berburu resep makanan di internet, ia lalu memutuskan terjun ke bisnis kuliner.

Dian Purwaningtyas mengaku tak pernah menyangka bakal terjun ke bisnis kuliner. Apalagi, dia lulusan dari jurusan Biologi di Universitas Brawijaya, Malang.

Selepas kuliah, Dian juga sempat bekerja di sebuah lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan jabatan kepala sekolah dan dewan pembuat kurikulum.

Namun, kariernya di dunia pendidikan tidak bertahan lama. Dian hanya betah mengajar beberapa bulan saja di sana dan akhirnya memilih keluar. "Saya merasa tidak satu visi dengan pemilik sekolah dalam prinsip pendidikan anak-anak," jelas wanita kelahiran 1980 ini.

Setelah keluar dari dunia pendidikan, Dian memilih tidak melamar pekerjaan ke tempat lain. Ia justru melanjutkan hobi lamanya saat masih kuliah dulu, yakni menjelajah dunia internet dan mencari hal-hal baru di sana.

Sebagai penyuka kuliner, Dian pun sibuk berburu resep-resep baru di internet. Nah, sebelum menemukan resep masakan khas Meksiko, ia sempat mencoba meramu makanan khas Jepang. Resep itu juga didapat dari internet.

Oleh Dian, resep makanan Jepang itu dimodifikasi sesuai dengan selera lidah orang Indonesia. Untuk mewujudkan idenya ini, ia sempat meminta bantuan mahasiswa tata boga.

Saat itu, tidak kurang dari 39 menu masakan khas Jepang berhasil dimodifikasinya. Ia kemudian mencoba menawarkan menu makanan Jepang itu ke pasar.

"Dan, saya kaget ketika menu-menu hasil modifikasi saya itu ternyata disukai di pasaran," jelas Dian.

Saat itu, bisnis kuliner Jepang ini dikelolanya dengan mengusung konsep kafe. Modalnya, patungan dengan beberapa temannya.

Namun, bisnis ini tidak bertahan lama. Manajemen yang buruk membuat bisnis ini terseok-seok. Selain karena minim pengalaman, usaha ini juga terkendala modal yang minim.

Beruntung, ada orang lain yang mau mengambil alih usaha kafe ini. Dengan terpaksa, ia pun melepaskannya. "Saya sangat kehilangan saat itu," kenang Dian.

Namun, ia tidak mau larut dalam putus asa. Pengalaman itu justru membuatnya semakin semangat untuk terjun ke bisnis kuliner.

Sejak itu, ia kembali sibuk berburu resep makanan di internet. Pilihannya kemudian jatuh ke makanan Meksiko. Selain sesuai selera orang Indonesia, makanan Meksiko juga masih sepi pemain. "Beda dengan masakan kontinental atau American junk food," ujarnya.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini ia tidak mau gagal lagi. Mengusung brand Mr. Tacoz, makanan Meksiko hasil racikannya ternyata diminati pasar. Dari sisi manajemen usaha juga diperkuat. "Saya juga rajin ikut pameran," ujarnya.

Membangun usaha bermodalkan hobi dan keyakinan tidaklah mudah. Namun, tidak demikian dengan Dian Purwaningtyas (31), pemilik usaha makanan khas Meksiko dengan brand Mr Tacoz.

Usaha yang berbasis di Malang, Jawa Timur, ini mampu mendulang omzet hingga ratusan juta per bulan. Kemampuannya meramu makanan Meksiko ini diperoleh dari kegemarannya berburu resep masakan dari seluruh dunia. "Saya berburu resep-resep makanan melalui media internet," kata Dian.

Selama ini, Dian memang selalu penasaran dengan sesuatu yang terjadi di dunia luar, terutama dalam hal makanan. Rasa penasaran itu juga yang mendorongnya rajin berburu resep masakan lewat internet.

Di internet, ia kemudian menemukan resep masakan khas Meksiko yang dianggapnya cocok dengan selera masyarakat Indonesia. "Ciri khasnya agak pedas-pedas, cocok dengan lidah masyarakat Indonesia," ujarnya.

Setiap menemukan resep yang menarik, Dian selalu mencoba untuk mempraktikkannya. Begitu juga ketika menemukan resep masakan Meksiko.

Ia pun tertarik untuk belajar meramu masakan dari negara Amerika Latin itu. Dari beberapa kali mencoba, ia lalu berhasil menghidangkan masakan Meksiko yang lezat.

Salah satunya adalah tacoz. Makanan Meksiko ini serupa kebab, yakni sayuran dan daging yang dibalut roti tortila. Bedanya, kulit tortila pada tacoz ada yang krispi. Perpaduan bumbu khas dengan dominasi citarasa nan pedas dan gurih sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Lantaran sesuai dengan lidah orang Indonesia, ia yakin peminat tacoz di Indonesia lumayan banyak. Dari situ ide bisnisnya kemudian muncul.

Pada Desember 2007, ia kemudian memberanikan diri untuk mendirikan gerai pertama di Malang. Untuk brand usaha ia memakai nama Mr. Tacoz.

Selain tacoz, ia juga menyediakan menu lain, seperti nacoz, mexico fries alias kentang berbumbu meksiko, dan tacoz burger. Makanan-makanan itu dibanderol mulai Rp 7.500 sampai Rp 15.000 per porsi.

Ia merintis usaha ini hanya dengan modal awal Rp 1,5 juta. Modal yang tak seberapa itu antara lain dipakai untuk membeli gerobak bekas.

Supaya tampak menarik, gerobak bekas itu kemudian dicat kembali. "Lalu saya beri gambar kartun lengkap dengan kumisnya dan tulisan Mr Tacoz," jelasnya.

Di masa awal merintis usaha, Dian rajin mengikuti bazar dan pameran di kampus dan sekolah-sekolah. Berkat usahanya itu, Mr Tacoz mendapat sambutan pasar yang cukup antusias. "Setiap hari, dalam waktu tiga jam sudah ludes terjual," jelas Dian.

Melihat respons pasar yang positif, pada tahun 2009 ia resmi menawarkan kemitraan. Hingga saat ini, Dian sudah memiliki 40 gerai di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Bandung.

Selain konsep booth, gerai-gerai itu juga ada yang mengusung konsep mini kafe. Dari usahanya ini, Dian meraup omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Pada tahun 2009, usaha kulinernya ini sempat mendapat penghargaan dari Indonesia Franchise Award (IFA). Saat itu, ia masuk nominasi 10 besar Woman Entrepreneur Franchise Award 2009 dari IFA.(*/rpo)

sumber: kontan.co.id

6:58 AM | Posted in , | Read More »

Menyalurkan Hobi Berbuah Sukses

RiauPortal.com - MODAL dan pengalaman, bagaikan hantu dalam dunia bisnis bagi pemula. Tanpa modal besar dan pengalaman yang memadai, seakan-akan tak bisa memulai langkah. Benarkah demikian?

Bagi Nanang Syaifurozi (30) dan Ane Yarina Christi (28), alasan tersebut pasti akan ditolak mentah-mentah. Sebab pasangan muda suami isteri tersebut mengawali usahanya hanya dari hobi dan modal Rp 20 ribu. Tapi kini omzetnya mencapai miliaran rupiah per bulan.

Nanang dan Ane tak pernah menyangka hobi mereka berdua semasa masih pacaran di bangku kuliah pada tahun 2000 menuntun jalan rezekinya. Awalnya mereka hanya menuruti kesukaan membuat pernak-pernik dari kertas, seperti bingkai (frame) foto. Hasilnya pun hanya untuk hiasan dinding kamar kos. Setelah itu iseng-iseng dijual ke temannya.

Karena laku, Nanang dan Ane pun tuman. Dengan modal Rp 20 ribu mereka membeli kertas, gunting, cutter dan lem untuk membuat frame foto lebih banyak lagi. Hasilnya dijajakan di bazar Minggu pagi di kawasan kampus UGM. “Saya jual Rp 7.000 perbuah. Laku satu saja rasanya senang banget,” ujar Nanang ketika dijumpai KR di tempat usahanya ‘Rumah Warna’ di Jalan Pandega Asih Ringroad Utara Caturtunggal Depok Sleman suatu siang.

Dengan telaten, jualan di pinggir jalan tersebut mereka lakoni hingga lebih dari satu tahun. Sejalan dengan itu mereka terus berkreasi dengan membuat aneka produk kreatif. Tak hanya sebatas bingkai foto, mereka merambah pula berbagai pernak-pernik kebutuhan remaja putri. Di tengah jalan, rintangan kecil mulai muncul. Orang tua Nanang yang mengetahui sepak terjang anaknya tersebut rupanya tak bisa menerima.

“Orang tua menentang karena ingin saya berkonsentrasi kuliah. Beliau berharap saya bisa kerja kantoran setelah lulus. Dan tidak ingin nasib saya sama seperti orang tua saya yang kesehariannya hanya jualan warung kelontong. Tapi saya tetap jalan terus pada pilihan saya. Karena saya yakin bisnis ini berprospek bagus,” kisah alumni D-3 Broadcasting UGM ini.

Kendati demikian Nanang bisa membuktikan keyakinannya dengan berhasil lulus pada tahun 2002. Setelah lulus, lagi-lagi Nanang melakukan sesuatu yang membuat orang tuanya kurang berkenan. Karena pada tahun 2002 itu juga Nanang nekat ingin menikahi Ane, adik kelasnya di kampus. Padahal mereka berdua belum memiliki pekerjaan mapan, bahkan masih dalam usia cukup muda 23 tahun.

“Prinsip saya, penghasilan kami berjualan pernak-pernik kreatif saat itu sudah cukup untuk makan sehari-hari. Karena tekad kami ingin menikah begitu kuat, akhirnya orang tua saya mengizinkan. Itupun nggak pakai ramai-ramai, asal sah di KUA. Bahkan teman-teman kos pun tidak ada yang tahu. Karena setelah menikah kami masih tetap kos sendiri-sendiri,” ujar pria muda kelahiran Banjarnegara Jateng 18 September 1979 ini.

Setelah menikah Nanang merasakan pintu rezekinya kian terbuka. Perubahan besar terjadi ketika dia menggelar karyanya pada salah satu stand di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tahun 2002. Usai FKY pesanan dari luar negeri membanjir. Awalnya dari Yunani yang memesan 10.000 pigura senilai Rp 43 juta. Lalu disusul dari Jepang, Spanyol, Perancis, Amerika Serikat dan Jerman.

Mulai saat itu ia merekrut karyawan meskipun hanya sebatas teman-temannya sendiri. Dalam mengembangkan produk, Nanang membidik pasar remaja putri. Saat itu produk yang sedang booming adalah frame dari kertas daur ulang. Namun ia tak mau latah. Justeru ia melihat belum banyaknya produk kreatif yang colourfull sesuai kesukaan cewek ABG.

Beranjak dari situ, tahun 2004 Nanang dan Ane mulai membuat produk yang dibuat dengan jahit-menjahit. Seperti dompet, tas, kantong handphone, bed cover dan sprei, namun tetap dengan konsep colourfull atau warna-warni. Kreativitas Nanang dan Ane pun diterima dengan baik oleh masyarakat. Karya demi karyanya terus mengalirkan rupiah.

“Awalnya memang tak mudah. Ketika saya butuh modal untuk mengembangkan usaha, masih dipandang sebelah mata oleh bank. Memang sulit mencari pinjaman ke bank bagi pebisnis pemula. Tapi sekarang setelah sukses, bank-bank berdatangan menawarkan pinjaman,” tutur Nanang.

Kerja keras hampir tujuh tahun telah bisa dinikmati hasilnya saat ini. Untuk terus mengembangkan usahanya, Nanang dan Ane membuka sistem franchise. Kini setidaknya telah ada 10 cabang franchise ‘Rumah Warna’ yang tersebar di wilayah Jawa, Kalimantan dan Kalimantan. Dari kesepuluh franchise ditambah dengan dua cabang miliknya sendiri, ‘Rumah Warna’ mampu membukukan omzet tak kurang dari Rp 1 miliar per bulan.

Kesuksesan tersebut tak lantas membuat pasangan pengusaha muda ini lupa diri. Bagi Nanang dan Ane, prinsip give and take selalu menjadi pegangan hidup. Keuntungan hasil usaha selalu disisihkan untuk diberikan kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung. “Selalu memberi dulu, baru menerima dalam hal apapun,” tandas Nanang.

6:07 AM | Posted in | Read More »

Diawali dengan Gadaikan Rumah

Berbeda dengan generasi akhir 1990-an dan awal 2000-an yang umumnya terjun menjadi wirausahawan karena sulit mencari kerja akibat krisis ekonomi yang tengah melanda, generasi pengusaha muda berumur 20-an tahun saat ini tampak memiliki keyakinan diri yang lebih besar. Mereka sejak semula bersungguh-sungguh ingin menjalani hidup sebagai entrepreneur. Salah satu di antaranya adalah Saptuari Sugiharto.

Lelaki berusia 29 tahun itu telah mulai berbisnis kecil-kecilan sejak kuliah di Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada. Tahun ini, ia terpilih sebagai runner-up Wirausahawan Muda Mandiri 2007. Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptuari telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah; beberapa usaha dijalaninya; mulai dari menjadi penjaga koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker, hingga sales dari agen kartu Halo Telkomsel.

Saptuari-Sugiharta-Founder-Kedai-DigitalLalu, pada 2004, ketika bekerja sebagai event organizer di sebuah perusahaan di Yogyakarta, mantan staf marketing Radio Swaragama FM ini terperanjat melihat antusiasme penonton berebut merchandise berlogo atau bergambar para selebriti. “Heran. Kenapa orang-orang begitu bersemangat mendapatkan kaus, pin, atau apa saja milik artis,” katanya.

“Padahal, mereka bisa membuat merchandise apa saja sesuai dengan kemauannya.” Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 Saptuari mengambil langkah berani mendirikan Kedai Digital. Perusahaan itu bertujuan memproduksi barang-barang cendera mata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital.

Waktu itu, ia bermodalkan uang sebanyak Rp28 juta; hasil dari tabungan, menjual motor, dan menggadaikan rumah keluarga. Butuh waktu enam bulan bagi lelaki kelahiran Yogyakarta itu untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Terlebih dahulu, ia mesti mencari mesin digital printing. Ia mendapatkannya (buatan China) di Bandung.

Ia juga harus mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia harus mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendirian. Bisnisnya berjalan pelan tapi pasti. Ketika usahanya mulai stabil, Saptuari memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni yang memang tersedia cukup banyak di Yogyakarta.

Untuk tenaga marketing, digunakan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang juga tersebar di kota itu. Target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa. Karenanya, menurut Saptuari, perusahaannya tak boleh main-main soal kualitas. Karena itu, ia mesti menggunakan desainer yang memiliki latar belakang pendidikan formal. Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp400 juta.

Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp1,5 miliar. Hingga akhir tahun silam, Kedai Digital telah memiliki delapan gerai di Yogyakarta. Salah satunya adalah Kedai Supply yang menyediakan bahan baku untuk kebutuhan produksi di seluruh outlet lainnya.

Sementara itu, gerai Kedai Printing dikhususkan melayani pesanan produk-produk advertising seperti banner. Di luar Yogyakarta, Saptuari telah memiliki lima outlet lain (di Kebumen, Semarang, Tuban, Pekanbaru, dan Solo) melalui sistem waralaba. Menurut Nur Alfa Agustina, Kepala Departemen MikroBisnis Group Bank Mandiri (penyelenggara Wirausahawan Muda Mandiri), di antara 500 peserta yang mengikuti lomba, Kedai Digital dinilai inovatif karena merupakan pelopor industri merchandise dengan metode digital printing di wilayah Yogyakarta.

Untuk penilaian dari sisi bisnis, Saptuari mendapat nilai lebih karena bukan berasal dari keluarga pengusaha. Pendidikannya pun tak terkait dengan ilmu ekonomi. Lalu, karena melibatkan banyak mahasiswa dalam menggerakkan usahanya dan mengajarkan mereka soal entrepreneurship, lelaki bertubuh kekar itu mendapat nilai yang tinggi dalam penilaian aspek sosial. Soal yang terakhir itu, Saptuari memang mengajak para pegawainya yang berperilaku baik untuk ikut memiliki saham di outlet-outlet Kedai Digital.

Kini, telah empat kedai yang sahamnya ikut dimiliki para pekerja. “Saya tak mau mereka terus-terusan hanya menjadi pekerja. Mereka juga harus menjadi owner,” katanya. Semangat wirausaha telah ikut disebarluaskan.

Sumber: http://www.purdiechandra.net.

9:53 PM | Posted in | Read More »

Sukses yang Berangkat dari Keterpaksaan

Dialah Akbar Buchari. Salah seorang pengusaha muda sukses di Sumatera Utara (Sumut)."Saya baru saja dari lapangan golf, lalu langsung ke sini. Kebetulan tempat ini dekat dengan rumah saya," ujar lelaki kelahiran Medan, 25 November 25 tahun lalu itu.

Penampilannya saat itu tak berbeda dengan anak-anak muda lain yang sedang nongkrong di tempat tersebut. Padahal, di luar penampilannya itu, Akbar saat ini sudah menjabat komisaris Kurnia Group yang bergerak di bidang transportasi. Kurnia adalah perusahaan otobus (PO) yang melayani rute Sumut sampai ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Perusahaan yang diwarisi Akbar dari ayahnya itu sekarang memiliki armada 250 bus.

Selain itu, sejak 2008 bisnisnya melebar dengan berekspansi di bidang perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di Blang Seunong, Aceh Timur. Jumlah lahan yang dimiliki mencapai enam ribu hektare. Bukan hanya itu, Akbar juga melebarkan sayap dengan membuka sebuah hotel bintang tiga di Medan yang diberi nama Hotel Saka. Hotel yang berlokasi di Jalan Gagak Hitam itu akan beroperasi dalam waktu dekat."

"Pemikirannya, banyak penumpang bus saya dari Aceh kesulitan mencari hotel ketika tiba di Medan," urainya. "Jadi, mengapa saya tidak bikin hotel sekalian. Nanti bisa di-bundling sama tiket busnya," sambungnya.

Di luar bisnis keluarga, dia tengah mengembangkan bisnis sendiri. Bersama beberapa kawan pebisnis muda, Akbar masuk ke bisnis properti. Dia mengatakan, bisnis di bidang realestat tengah berkembang pesat di ibu kota Sumut itu.
Dibandingkan dengan lelaki seumurnya, Akbar jelas bisa dibilang telah meraih kesuksesan. Namun, sejatinya dia tak bermaksud menjadi pengendali bisnis keluarga di usianya yang masih relatif muda itu.

Keadaanlah yang memaksanya demikian. Semua diawali pada 1997, ketika ayahnya, Buchari Usman, menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Garuda Indonesia, GA-152 di Desa Buah Nabar, Kab. Deli Serdang (sekitar 32 km dari Bandara Polonia, Medan)."Mungkin kalau ayah masih hidup, saya sekarang baru lulus S-2 dan baru belajar bisnis. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu," ucap sarjana hukum dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan, itu.

Saat kecelakaan yang menimpa ayahnya itu terjadi, dia baru berumur sepuluh tahun. PO Kurnia pun untuk sementara berada dalam kendali sang paman. Baru pada 2004, saat duduk di bangku SMA, Akbar bergabung untuk membantu menjalankan bisnis keluarganya itu. Tak langsung mengurusi manajemen perusahaan, dia menjadi mekanik terlebih dulu. Sang ayah berpesan, pengusaha transportasi memang harus mengerti mesin. Sebab, itu adalah inti bisnis tersebut.

Akbar menceritakan, kala itu, sepulang dari sekolah, dia langsung meluncur ke pangkalan bus dan membantu para mekanik. Tugas itu tak dirasakannya sebagai beban. Selain harus menjalankan amanat ayahnya, Akbar suka mengutak-atik mesin karena dikenalkan oleh sang ayah sejak masih balita.

Oleh keluarga, Akbar memang disiapkan untuk menggantikan tugas ayahnya sebagai pemimpin perusahaan. Yakni, berperan sebagai pengambil keputusan karena dia anak pertama dari dua bersaudara. Ujian lain yang menerpa adalah kondisi keamanan NAD yang sempat kritis karena terjadi konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI.

Akbar mengatakan, pada medio 2000, perusahaan yang dijalankannya tak luput dari intimidasi sejumlah oknum. Bahkan, banyak bus PO Kurnia yang dibakar. "Ada sekitar 20 bus yang dibakar. Tapi, sampai sekarang tidak jelas siapa yang membakar. Kami hanya tahu itu ulah oknum-oknum yang tidak jelas," ungkapnya seperti dikutip jppn.com.

Walau kondisi demikian kritis, sebagian bus yang kondisinya baik tetap melayani rute Medan-Banda Aceh. Ketika provinsi paling barat Indonesia itu dihantam amuk tsunami, PO Kurnia juga tak luput dari bencana.

Akbar mengisahkan, kala tsunami menghunjam Serambi Makkah, sekitar 50 bus di pool Banda Aceh terkena dampaknya. Pagar pool juga terseret arus sampai ke jalan raya.

Di tengah kondisi seperti itu, Akbar harus pintar-pintar memutar otak. Dia harus mengatur anggaran dengan cermat. Bahkan, membangkitkan semangat para kru bus. Karena terdesak keadaan ketika itu, di pool bus sampai dibangun dapur umum.

Namun, tsunami justru menjadi semacam blessing in disguise alias berkah tersamar. Sebab, setelah gelombang itu pergi dan kondisi berangsur-angsur normal, bisnisnya semakin terangkat karena banyak orang yang mengunjungi Aceh.

Menurut Akbar, krisis dan ujian yang silih berganti menerpa usahanya adalah sebuah ujian yang harus dilalui. Kerikil-kerikil tajam itulah yang turut membuatnya menjadi pebisnis tangguh.

Kini, Akbar tentu tak perlu terlalu bersusah payah memikirkan bisnisnya karena sudah berjalan dengan baik. Hanya ketika kehadirannya dibutuhkan, dirinya turun tangan langsung. Kegiatan di luar bisnis banyak diisi dengan berorganisasi dan memuaskan hobi di bidang olahraga. Akbar tercatat sebagai wakil ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Himpi) Sumut, ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Pengkot Medan, dan ketua komisi roda empat Ikatan Mobil Indonesia. Akbar juga dikenal sebagai pereli. Sejumlah event reli nasional diikuti driver Mitsubishi Evolution 9 itu.

Pada 2006, dia meraih juara nasional di kelas pemula. "Kalau tidak ada urusan bisnis atau event reli, saya biasa melahap rute pegunungan di sekitar Medan," papar penggemar mountain bike (MTB) itu. (*/rpo)

9:12 PM | Posted in | Read More »

Bermula dari Jadi Pembantu di Hongkong

JAKARTA - RiauPortal.com - Pengalaman menjadi TKW di Hongkong mengantarkan Ani Ema Susanti sukses di bidang film dokumenter. Berbagai penghargaan nasional dan internasional pun pernah diraihnya.

Ani Ema Susanti tumbuh dan besar di Desa Pulogedang, Kecamatan Tembelang, Jombang. Di desa tersebut hampir sebagian besar warganya berprofesi TKW.

Karena itu, sejak kecil Ani akrab dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan TKW. Dia sudah terbiasa menyaksikan penderitaan keluarga para TKW maupun kisah TKW yang sukses di desanya.

Ani berasal dari keluarga pas-pasan. Orangtuanya hanya lulusan SD. Meski begitu, dia tidak mau menyerah dengan keadaan. Dia bahkan mewanti-wanti diri agar tidak ikut-ikutan menjadi buruh migran seperti para tetangganya.

Menurut perempuan berjilbab tersebut, kehidupan sebagian keluarga para TKW memang terkesan makmur. Sebab, begitu pulang ke tanah air, mereka membeli sawah, membangun rumah, dan memborong perabotan rumah tangga.

‘’Mereka juga beli motor,’’ ujar Ani saat ditemui di Cilandak Town Square, Rabu (30/5).

Tetapi, di balik ‘’kemakmuran’’ tersebut, Ani menyaksikan sederet kenyataan pahit dari kehidupan para buruh migran yang mengais penghidupan di negeri orang tersebut. Banyak keluarga TKW yang tidak terurus, bahkan kacau-balau, setelah ditinggal bekerja di luar negeri bertahun-tahun.

‘’Banyak juga yang pulang dari luar negeri malah cerai. Ada juga yang keluarganya telantar. Belum lagi yang dapat siksaan fisik dari majikan dan pulang dengan kondisi cacat atau sakit parah,’’ urainya.

Ketika Ani duduk di bangku SD, guru-gurunya rajin mengingatkan agar tidak mengikuti jejak warga yang menjadi TKW. Hingga SMA, nasihat gurunya tersebut terus terngiang dalam ingatan. Apalagi, Ani bersekolah di SMA favorit di Jombang. Meski keluarganya miskin, ia ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Perempuan kelahiran 6 Agustus 1983 itu ingin meraih gelar sarjana dan menjadi guru seperti adik ibunya. Ia melihat kehidupan pamannya jauh lebih layak bila dibandingkan dengan orangtuanya yang hanya buruh tani.

‘’Kalau ibu kerja dari pagi sampai siang hanya dapat Rp2.000. Waktu puasa ibu sampai nyuruh saya ikut jualan beras agar bisa membeli ikan asin untuk buka,’’ jelasnya.

Kendati demikian, keinginan Ani untuk meneruskan kuliah didukung penuh orangtuanya. Mereka berjanji akan berusaha membiayai kuliah Ani. Namun, usaha dan kerja keras Ani, tampaknya, belum membuahkan hasil. Ia gagal menembus ujian masuk perguruan tinggi negeri. Anak pertama di antara dua bersaudara itu juga tidak lolos seleksi masuk di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Karena tidak mungkin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS), Ani akhirnya memutuskan untuk bekerja. Ia berharap bisa mengumpulkan uang untuk kuliah.

Namun, Ani hanya mampu mendapatkan pekerjaan dengan gaji tidak seberapa. Ia pernah bekerja di pabrik snack bagian pengemasan. Baru beberapa bulan bekerja, ia keluar karena pabriknya didemo. Hal tersebut kembali berulang saat ia bekerja di pabrik kayu.

Ani lalu pindah ke UKM (usaha kecil menengah). Namun, karena penghasilannya yang minim, Ani tidak bisa menabung maupun membantu orangtua. Ia kemudian mencoba untuk menjadi sales kosmetik keliling dari rumah ke rumah.

‘’Tapi, ibu dan bapak nggak tega saya bekerja seperti itu. Saya disuruh berhenti,’’ jelasnya.

Pada saat yang sama, orangtua Ani menghadapi masalah ekonomi. Mereka terlilit utang di bank. Tidak ada pilihan, Ani akhirnya mengikut jejak para tetangganya, menjadi TKW.

Meski berat hati, dia tidak mau sembarangan dalam menjalankan profesi itu. Sebelum berangkat, Ani meneliti negara-negara tujuan TKW yang mengutamakan jaminan keamanan dan kesehatan.

Hasilnya, dia memilih Hongkong sebagai tempat bekerja. Dari bekerja sebagai TKW itu, Ani berharap dapat menabung untuk biaya kuliah sekaligus membantu orangtua di desa.

Petualangan Ani sebagai TKW pun dimulai. Dia mendaftar di sebuah PJTKI (pengerah jasa tenaga kerja Indonesia) di Bekasi.

Selama enam bulan dia tinggal di penampungan TKI untuk dididik dan diberi bekal keterampilan. Awalnya Ani mengaku cukup tersiksa dengan kondisi di penampungan yang penuh larangan dan serba terbatas.

Misalnya, untuk mandi, dia harus rela antre lama sebelum mendapat giliran. Sebab, di penampungan yang dihuni 300 calon TKW itu hanya ada delapan kamar mandi.

Selesai menjalani pelatihan selama enam bulan, 30 Juli 2001 Ani terbang ke Hongkong. Dia tinggal di vila milik keluarga Mr Leung Yeuk Chung di kawasan New Territories.

Di sana dia tinggal bersama TKW lain yang sudah lama hidup di keluarga tersebut.

Dia diajari mengerjakan tugas-tugas rumah tangga serta diberi tahu segala hal terkait dengan makanan kesukaan hingga hal-hal yang tidak disukai sang majikan. Ani kadang juga diperbantukan di rumah orang tua majikannya di kawasan Kowloon.

Awalnya dia sulit berkomunikasi dengan majikan karena bahasa yang digunakan Cantonese. Namun, lama-kelamaan dia mulai terbiasa. Bahkan, Ani merasa beruntung karena bisa bekerja pada keluarga tersebut.

Mereka memberikan hak libur sehari dalam sepekan. Ani juga leluasa menjalankan ibadah salat lima waktu. “Saya juga diperbolehkan mengakses internet paling tidak sejam setiap hari,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, dari keluarga tersebut, Ani belajar banyak tentang pentingnya pendidikan. Kebetulan Mr Leung Yeuk Chung dan istrinya bekerja di Chinese University. Anak pertama mereka kuliah di Inggris. Mereka sangat mengutamakan pendidikan akademik dan pembentukan karakter.

“Dari mereka saya belajar betapa pentingnya pendidikan. Mereka juga selalu membiasakan sarapan dan makan malam bersama-sama satu meja,” kenang Ani.

Berdasar pelajaran itu, Ani pun bertekad tidak akan menjadi TKW selamanya. Dia ingin kuliah. Apalagi, tabungannya sudah cukup untuk biaya kuliah dan membantu keluarga di desa.

Selama menjadi TKW Hongkong, Ani sering mengisi hari libur dengan pergi ke perpustakaan. Dia juga kerap mengunjungi Kowloon Mosque untuk bertemu umat muslim dari beberapa negara seperti Pakistan, Jerman, hingga Inggris. Di sela-sela kegiatan itu, Ani selalu menyempatkan untuk menulis catatan harian.

Tepat dua tahun kontraknya habis, Ani memutuskan untuk pulang ke tanah air. Istri Ibnu Nahrozi tersebut tidak membuang waktu lama-lama guna mewujudkan cita-citanya menempuh pendidikan tinggi.

Sepulang ke tanah air, dia langsung mendaftarkan diri masuk Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Dia memilih jurusan psikologi karena ingin mewujudkan keinginan menjadi penulis novel.

“Menurut saya, menulis novel bisa lebih hidup jika kita memahami karakter orang. Untuk itu, perlu ilmu psikologi,” kata dia.

Sejak saat itu Ani kerap mengirimkan tulisannya ke berbagai perlombaan menulis fiksi dan penerbit. Dia juga membukukan pengalamannya menjadi TKW di Hongkong dalam bukunya yang berjudul Once Upon Time in Hongkong.

Namun, Ani kurang beruntung dalam hal itu. Tidak ada satu pun karyanya yang mampu menembus redaksi penerbit maupun memenangi lomba.

Tapi, dia tidak patah semangat. Dia terus berkreasi. Pada semester tujuh, Ani secara tidak sengaja melihat iklan kompetisi film dokumenter amatir Eagle Awards yang diadakan Metro TV.

Ani kembali mencoba peruntungan di dunia tulis-menulis dengan membuat proposal film. Semula Ani malu dengan statusnya yang mantan TKW. Namun, profesi itulah yang justru menginspirasi keikutsertaannya dalam ajang kompetisi film dokumenter tersebut.

‘’Sebelum itu saya benar-benar berusaha menutup rapat-rapat latar belakang saya yang mantan TKW di Hongkong. Tapi, dari ajang Eagle Awards itu saya malah terpikir untuk mengambil kehidupan TKW sebagai subjek film,’’ ujarnya.

Dalam film tersebut, Ani memilih berada di balik layar. Dia mendokumentasikan kehidupan rekannya sesama TKW di Hongkong. Tidak disangka, proposal film Ani terpilih.

Dia dan Yunni, rekannya, lalu diundang ke Jakarta untuk memfilmkan naskah tersebut. Film yang diberi judul Helper Hongkong Ngampus itu akhirnya berhasil masuk lima besar Eagle Awards 2007.

Selain di Metro TV, film karya perdana Ani bersama temannya tersebut diputar di berbagai event yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan. Nama Ani Ema Susanti makin dikenal luas.

Itu berdampak pada novel Once Upon Time In Hongkong yang awalnya selalu ditolak penerbit. Akhirnya ada yang tertarik menerbitkan. “Mungkin mereka mikirnya lebih mudah promosinya kalau orangnya sudah dikenal,” ujarnya.

Setahun kemudian Ani berhasil menyelesaikan kuliah. Namun, dia tidak mencari pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Dia justru ketagihan untuk membuat film lagi.

Tidak disangka, dia diundang ke Jakarta guna mengikuti workshop film yang dikelola Ford Foundation. Di bawah bimbingan sineas tenar Nia Dinata, Ani membuat film berjudul Mengusahakan Cinta yang kembali bercerita tentang TKW di Hongkong.

Kali ini Ani harus kembali ke Hongkong, namun bukan sebagai TKW, melainkan sineas. Film pendek yang disatukan dalam film Pertaruhan tersebut juga kembali meraih penghargaan.

Tidak tanggung-tanggung, film itu terpilih dalam Festival Film Berlinale di Jerman. Film tersebut juga meraih Best Feature Documenter pada The 2009 Documentary Film Festival.(*)

sumber:riaupos.co

5:40 PM | Posted in , | Read More »